Hari ini kita dapat menyaksikan sendiri sistem sedang memanjakan kita dengan sederet kenyamanan sehingga kita bisa saja tak berani lagi melangkah ke posisi “tidak nyaman” dalam segala aspek kehidupannya. Sejak lahir, bayi yang terbiasa disusui oleh ibunya akan menangis ketika tiba-tiba tak disusui oleh ibunya. Mereka menangis karena mereka sama dengan orang dewasa yang merasa lapar. Tetapi bayi-bayi itu menangis karena hanya itu yang mereka bisa lakukan. Sedangkan orang dewasa dapat berjalan dan membuat dirinya sendiri makanannya tanpa harus menunggu Ibu mereka mendatanginya dan menyusuinya.
Selanjutnya, di umur 1-6 tahun kebanyakan anak yang kondisi ekonomi keluarganya ada dalam taraf ekonomi menengah keatas akan dimanjakan dengan berbagai permainan yang diberikan orang tuanya sedangkan anak yang keluarganya berekonomi rendah akan mulai diperkenalkan pola kehidupan yang mandir dan terbisasa menciptakan sendiri permainannya. Klasifikasi seperti ini saya buat bukan untuk membeda-bedakan mereka tapi sebagai bahan kita melihat bagaimana sebenarnya situasi kita hari ini.
Hari ini, kita seperti kasus anak kecil ini, tapi tidak tertutup kemungkinan klasifikasi di atas sudah tidak ada lagi. Kita menjadi sering terbiasa meminta bantuan teman unutk mengerjakan tugas sekolah misalnya. Mulai menuju usia yang lebih tua, akibat pengaruh yang ditimbulkan media, seorang perempuan akan mulai mendandani dirinya dengan berbagai alat kosmetik dan seorang pemuda akan mulai keranjingan alat-alat otomotif. Bahkan tidak sedikit laki-laki yang juga ikut berdandan. Mereka-mereka yang “mengikuti” mode ini bisa kita ibaratkan bayi yang sangat bergantung dengan Ibunya untuk disusui. Tapi mereka tidak membutuhkan susu. Yang mereka butuhkan adalah majalah, siaran televisi yang menayangkan model-model busana saat ini, model-model riasan wajah, dan lainnya. Dan ketika mereka tak mendapatkan atau memperolehnya, mereka akan merasa tertinggal dan menyesali diri mereka, bahkan rasa cemburu bisa timbul melihat yang lain mendapatkan apa yang mereka tidak dapatkan.
Sungguh ironis, hari ini kita juga dimanjakan oleh beberapa fasilitas yang bertaraf eksklusif dan mahal seperti tempat bermain misalnya. Tempat bermain sekarang tidak dirancang lagi untuk anak-anak tapi juga untuk orang dewasa. Saya setuju kita butuh mengistirahatkan diri dari segala kepenatan kita dalam rutinitas yang padat. Tapi bukan berarti tempat-tempat eksklusif seperti ini bisa kita gunakan untuk memanjakan diri kita sedang masih banyak pula tempat-tempat yang murah meriah dan masih tetap dapat menimbulkan kesenangan. Menurut saya, perasaan senang bukan dipengaruhi oleh seberapa ekslusif dan mahalnya suatu tempat rekreasi tetapi semampu apakah sebuah lingkungan dapat membuat orang dapat memperoleh rasa estetik tersendiri dari apa yang mereka lakukan. Saya tidak bermaksud memaksakan pendapat saya kepada pembaca, tapi sangat disayangkan ketika barang-barang atau tempat-tempat seperti ini menjadi “Tuhan-Tuhan” baru bagi para ramaja.
Mengapa? Karena di usia remaja, proses belajar atau menguasai keilmuan sangatlah penting untuk bekal kehidupan di usia selanjutnya. Bayangkan saja ada berapa banyak uang yang dihabiskan para remaja untuk mengkonsumsi tempat-temat mewah sedangkan masih banyak anak jalanan yang mmbutuhkan uang itu untuk memperoleh sesuap nasi. Mari kita bandingkan seratus ribu rupiah untuk bermain di tempat mahal dan seratus ribu rupiah untuk memberi makan 20 anak jalanan atau membeli buku.
Penyerangan yang dilakukan sistem ini juga merambah ke barang-barang yang tidak kita sadari telah banyak kita konsumsi. Khusus di bulan Ramadhan misalnya, sangat disayangkan lagi uang ratusan ribu dipakai untuk membeli kebang api, petasan, dan sebagainya. Mari kita bandingkan lagi uang itu kita belanjakan untuk kemudian barang yang kita beli itu dibakar dan melihat sesuatu yang mungkin “wah” dan uang itu kita zakatkan. Perlu kita ingat, harta itu harus kita bagi. Dalam Islam juga diatur ketentuan untuk membagi sekian persen harta yang kita miliki untuk orang yang tidak mampu. Dan lagi-lagi kebanyakan dari kita pun sudah merasa dirinya mengetahui ini, tapi tetap mengalami stagnasi. Kalau untuk yang satu ini saya juga tidak mengerti mengapa orang lebih sombong dengan ketidaktahuannya.
Sangat mengherankan bukan? Dan sekali lagi kisah anak kecil di atas menjadi terulang dengan pola perilaku orang-orang sekarang yang katanya “modern”. Bisa saja kamu, atau orang yang disampingmu sedang melakukannya. Apa kamu mau tinggal diam? Seseorang akan lebih merasakan makna dari pengetahuannya ketika pengetahuan itu diaktualisasikan ketimbang pengetahuan itu disimpan dan ber-”onani” sendiri dengan teori tanpa aplikasi.