Rabu, 14 Desember 2011


            Teori Pasca Ketergantungan

a.   Pendahuluan

Teori-teori tentang pembangunaan setelah munculnya teori ketergantungan memang menjadi semarak. Karena itu, lepas dari kelemahan-kelemahan yang ada pada teori ketergantungan, munculnya teori ini, tidak bisa disangkal, telah memberi persfektif baru pada teori-teori pembangunan pada umumnya.

Salah satu persfektif penting yang diberikan adalah bahwa aspek eksternal dari pembangunan menjadi penting. Sebelumnya aspek tersebut kurang dianggap berperan. Negara-negara lain hanya dianggap sebagai mitra dagang, yang sering kali sangat membantu proses pembangunan yang terjadi di suatu negara. Ataupun dianggap menghambat, karena negara itu sangat besar kekuatan ekonominya, sehingga negara yang sedang membangun tidak bisa bersaing dengan mereka.

Teori ketergantungan menunjukkkan bahwa negara- negara yang ekonominya lebih kuat bukan saja menghambat Karena menang dalam bersaing, tetapi juga ikut campur dalam mengubah struktur sosial, politik, dan ekonomi dan negara yang lebih lemah. Kekuatan-kekuatan eksternal itu lebih diinternalisasikan oleh negara yang lemah, sehingga tercipta sebuah struktur ketergantungan didalam negeri. Proses perubahan struktural inilah yang dipeajari oleh Cardoso melalui kasus-kasus yang di negara-negara Amerika Latin. Walaupun tidak ada teori tunggal yang dapat menjelaskan teori ketergantungan, namun tedapat tiga ciri persamaan atas definisi yang disepakati oleh para ahli teori ketergantungan.

Pertama, ketergantungan membentuk sistem internasional yang terdiri dari dua negara yang digambarkan sebagai dominan/ tergantung, pusat/ periferi atau metropolitan/ satelit. Negara-negara dominan adalah negara maju yang mempunyai kemajuan industri dan tergabung dalam Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Sedangkan negara-negara tergantung adalah Amerika Latin, Asia dan Afrika yang memiliki pendapatan per kapita yang rendah serta bergantung sepenuhnya kepada ekspor satu jenis komoditi untuk memperoleh devisa (foreign exchange).

Kedua, dengan asumsi yang sama bahwa adanya kekuatan (dorongan) dari luar merupakan satu-satunya aktivtas ekonomi yang penting di dalam negara-negara yang bergantung. Kekuatan luar ini termasuklah Perusahaan Multi National (MNC’s) MNC, pasar komoditi internasional, bantuan luar negeri, komunikasi dan berbagai bentuk lainnya yang oleh negara-negara maju digunakan untuk kepentingan ekonomi mereka di luar negeri.

Ketiga, pengertian ketergantungan menunjukkan bahwa hubungan antara negara yang mendominan dan yang bergantung adalah dinamis, karena interaksi antara dua negara bukan hanya untuk saling menguatkan, tetapi juga untuk meningkatkan pola/ corak yang tidak merata dalam pembagian ekonomi. Seperti dinyatakan di atas, bahwa teori ketergantungan pertama kali dikemukakan oleh Prebisch dan dikemukakan kembali oleh ahli teori Marxis, Andre Gunder Frank dan diperlunak oleh Immanuel Wallerstein melalui teori sistem dunia. Teori ketergantungan menjadi popular pada 1960-an dan 1970-an sebagai kritik terhadap ahli teori pembangunan popular yang dilihat gagal untuk menjelaskan isu kemiskinan yang semakin meningkat di sebagian besar dunia.

Dalam teori pasca ketergantungan ( perkembangan kekinian) ada beberapa teori yang dibahas dalam makalah ini yaitu , Teori Liberal dan juga Teori Artikulasi oleh Bill Warren.

B.   Pembahasan

·         Teori Liberal

Teori liberal pada dasarnya tidak banyak dipengaruhi oleh teori ketergantungan, teori liberal tetap berjalan seperti sebelumnya yakni mengukuti asumsi-asumsi bahwa modal dan investasi adalah masalah utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Kritik terhadap teori liberal pada umumnya berkisar pada ketajaman definisi dari teori ketergantungan. Definisi yang ada dianggap terlalu kabur, sulit dijadikan sesuatu yang operasional. Tanpa kejelasan dan ketajaman konsep-konsep dasarnya, teori ketergantungan lebih merupakan sebuah retorika belaka. Agar konsep ketergantungan dapat di pakai untuk menyusun teori, maka ada dua kriteria yang harus dipenuhinya, yaitu:

a.    Gejala ketergantungan ini harus hanya ada di negara-negara yang ekonominya mengalami ketergantungan dan tidak di negara yang tidak tergantung dengan negara lain.
b.    Gejala ini mempengaruhi perkembangan dan pola pembangunan di negara-negara yang tergantung.

Dari penelitiannya terhadap aspek ekonomi dan sosiopolitik dari gejala ketergantungan, Lall melihat bahwa gejala ini juga terdapat di negara-negara yang dianggap tidak tergantung. Misalnya tentang dominasi modal asing. Dalam hal ini, Kanada dan Belgia akan lebih tergantung daripada India atau Pakistan. Tetapi sulit sekali memasukkan Kanada dan Belgia ke dalam kelompok negara-negara yang tergantung, karena tingkat kemakmurannya yang tinggi. Baik dominasi maupun ketergantungan merupakan gejala yang umum yang ada di negara-negara pusat maupun pinggiran.

Teori liberal pada dasarnya tidak banyak dipengaruhi oleh teori ketergantungan. Teori liberal tetap berjalan seperti sebelumnya, yakni mengikuti asumsi-asumsi bahwa modal dan investasi adalah masalah utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Teori yang dianut oleh para ahli ekonomi ini lebih mengembangkan diri pada keterampilan teknisnya, yakni bagaimana membuat table input-output yang baik, bagaimana mengukur keterkaitan diantara berbagai sector ekonomi dan sebagainya. Tentu saja bukan tidak berguna. Tetapi, yang kurang dipersoalkan adalah bagaimana faktor politik bisa dimasukkan ke dalam model mereka.

·         Bill Warren

Warren membantah inti teori ketergantungan, yakni bahwa perkembangan kapitalisme di negara-negara pusat dan pinggiran berbeda. Kapitalisme di negara mana pun sama. Oleh karena itu, tesis Warren cenderung menjadi ahistoris dan dekat dengan teori para ahli ilmu sosial liberal.

Inti dari kritik Warren adalah bahwa dalam kenyataannya, negara-negara yang tergantung menunjukkan kemajuan dalam pertumbuhan ekonomi dan proses industrialisasinya. Bahkan kemajuan ini menunjukkan bahwa negara-negara yang tergantung ini sedang mengarah pada pembangunan yang mandiri.

Berlawanan dengan pandangan kaum Marxis, bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa prospek bagi sebuah pembangunan kapitalis yang berhasil di negara-negara berkembang ternyata baik. Pembangunan yang berhasil di negara-negara Asia Timur dan Tenggara dianggap sebagai salah satu bukti bahwa kapitalisme memang masih bugar, masih terus bisa mengembangkan dirinya. Warren menunjukkan data-data yang memperlihatkannya bahwa setelah perang dunia kedua, anggapan akan adanya keterbelakangan di negara-negara pinggiran hanya merupakan ilusi belaka. Ada enam pokok yang dibahasnya, yakni ; 1. Masalah PNB perkapita, 2. Masalah kesenjangan sosial, 3. Masalah marginalisasi, dimana orang jadi tersingkir dari lapangan kerjanya, 4. Masalah produksi yang diarahkan pada barang-barang mewah dan bukan barang pada kebutuhan pokok, 5. Masalah industrialisasi, 6. Masalah kapitalisme.

Dari data statistik yang dikumpulkannya, Warren membuktikan bahwa apa yang diramalkan oleh teori ketergantungan ternyata tidak benar. Oleh karena itu, dia menyimpulkan : “Jadi, berlawanan dengan pendapat umum yang ada, dunia ketiga tidak mengalami kemandekan secara relatif maupun absolut setelah perang dunia ke dua. Sebaliknya, kemajuan yang berarti dalam hal kemakmuran material dan pembangunan kekuatan produksi telah tercapai, dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan keadaan sebelum perang. Kenyataan ini juga berlawanan dengan pandangan kaum Marxis yang menyatakan bahwa pembangunan nasional yang mengikuti jalan kapitalis bisa terjadi di dunia ketiga”.

Bagi Warren, tidak bisa dicegah lagi bahwa kapitalisme akan berkembang dan menggejala di semua negara di dunia ini. Baru setelah kapitalisme berkembang sampai mencapai titik jenuhnya, perubahan ke sosialisme dimungkinkan. Karena itu, memaksakan perubahan ke sosialisme sekarang juga merupakan hal yang sia-sia, karena pada saat ini perkembangan kapitalisme belum mencapai titik jenuhnya. Karena itu, perkembanngan kapitalisme di Negara-negara pinggiran masih dimungkinkan. Pembangunan yang berhasil di Negara-negara Asia Timur ( Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura) dianggap sebagai salah satu bukti bahwa kapitalisme memang masih tumbuh subur, masih terus bisa mengembangkan dirinya.

·         Teori Artikulasi

Munculnya teori ini dikarenakan ketidakpuasan terhadap teori ketergantungan karena pada dasarnya pembangunan dan industrialisasi memang terjadi di negara-negara terbelakang. Pertama dikembangkan oleh antropolog Perancis, seperti Claude Meillassoux dan Pierre Phillippe Rey. Teori ini melihat persoalan keterbelakangan dalam lingkungan proses produksi, artinya keterbelakangan di negara-negara Dunia Ketiga harus dilihat sebagai kegagalan dari kapitalisme untuk berfungsi secara murni, sebagai akibat dari adanya cara produksi lain di negara-negara tersebut.

Teori artikulasi bertitik tolak dari konsep Formasi Sosial. Dalam Marxisme dikenal konsep cara produksi (mode of production), misalnya cara produksi feodal, cara produksi kapitalis, dan cara produksi sosialis, yang ketiganya memiliki perbedaan. Misal dalam kapitalisme terdapat pasar bebas, akumulasi modal yang cepat dan sebagainya. Namun, kenyataan yang sesungguhnya dalam masyarakat tidak hitam putih seperti itu. Adanya cara peralihan seperti dari cara produksi feodal ke kapitalis bukan terjadi pada hitungan hari, tetapi memakan waktu yang lama dan pada waktu peralihan yang lama inilah terjadi percampuran dari dua atau lebih cara produksi. Oleh karena itu, gejala di mana beberapa cara produksi ada bersama disebut dengan formasi sosial.

Jika teori ketergantungan melihat bahwa kapitalisme yang menggejala di negara-negara pinggiran berlainan dengan kapitalisme yang menggejala di negara-negara pusat, maka teori artikulasi berpendapat bahwa kapitalisme di negara-negara pinggiran tidak dapat berkembang karena artikulasinya, atau kombinasi unsur-unsurnya tidak efisien. Dengan kata lain, kegagalan dari kapitalisme di negara-negara pinggiran bukan karena yang berkembang di sana adalah kapitalisme yang berbeda, tetapi karena koeksistensi cara produksi kapitalisme dengan cara produksi lainnya (kemungkinan) saling menghambat.

Teori Artikulasi bertitik tolak dari konsep formasi sosial. Dalam Marxisme dikenal konsep cara produksi. Masing-masing cara produksi mempunyai ciri yang berlainan dengan cara produksi lainnya. Namun dalam kenyataannya di dalam masyarakat selalu terdapat lebih dari satu cara produksi secara bersama-sama. Inilah yang disebut formasi sosial, yaitu gejala dimana beberapa cara berproduksi ada bersama.

Dalam teori artikulasi kapitalisme di negara-negara pinggiran tidak bisa berkembang karena artikulasinya atau kombinasi unsur-unsurnya tidak efisien. Ada banyak unsur penghambatnya. Bagi teori artikulasi kegagalan dari kapitalisme di negara-negara pinggiran bukan karena yang berkembang di sana adalah kapitalisme yang berbeda, tetapi karena koeksistensi cara produksi kapitalisme dengan cara produksi lainnya bersifat saling menghambat. Teori artikulasi disebut juga sebagai teori yang memakai pendekatan cara produksi. Pada teori ini, persoalan keterbelakangan dilihat dalam lingkungan proses produksi. Bagi teori artikulasi, keterbelakangan di negara-negara dunia ketiga harus di dilihat sebagai kegagalan dari kapitalisme untuk berfungsi secara murni. Sebagai akibat dari adanya cara produksi lain di negara-negara tersebut.

·         Immanuel Wallerstein; Teori Sistem Dunia

Teori ini berpendapat bahwa dulu di dunia terdapat sistem-sistem kecil atau sistem mini dalam bentuk kerajaan atau bentuk pemerintahan lainnya. Kemudian terjadi penggabungan-penggabungan, baik melalui penaklukan secara militer maupun secara sukarela.

Sebuah kerajaan besar kemudian muncul. Meskipun tidak sampai menguasai seluruh dunia, tetapi karena besarnya yang luar biasa dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan yang ada sebelumnya, kerajaan ini disebut sebagai kerajaan dunia atau world empire.
Kerajaan dunia ini mengendalikan kawasannya melalui sebuah sistem politik yang dipusatkan.

Perkembangan teknologi perhubungan dan perkembangan di bidang lain kemudian memunculkan sistem perekonomian dunia yang menyatu. Dengan kata lain, sistem perekonomian dunia adalah satu-satunya sistem dunia yang ada. Sistem dunia inilah yang sekarang ada sebagai kekuatan yang menggerakkan negara-negara di dunia. Sistem dunia yang ada sekarang adalah kapitalisme global.

C.   Kesimpulan

Teori liberal pada dasarnya tidak banyak dipengaruhi oleh teori ketergantungan, teori liberal teteap berjalan seperti sebelumnya yakni mengukuti asumsi-asumsi bahwa modal dan investasi adalah masalah utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Kritik terhadap teori liberal pada umumnya berkisar pada ketajaman definisi dari teori ketergantungan. Definisi yang ada dianggap terlalu kabur, sulit dijadikan sesuatu yang operasional. Tanpa kejelasan dan ketajaman konsep-konsep dasarnya, teori ketergantungan lebih merupakan sebuah retorika belaka. Teori yang dianut oleh para ahli ekonomi ini lebih mengembangkan diri pada keterampilan teknisnya, yakni bagaimana membuat table input-output yang baik, bagaimana mengukur keterkaitan diantara berbagai sektor ekonomi dan sebagainya. Tentu saja bukan tidak berguna. Tetapi, yang kurang dipersoalkan adalah bagaimana faktor politik bisa dimasukkan ke dalam model mereka.

.Teori Artikulasi bertitik tolak dari konsep Formasi Sosial. Dalam marxisme dikenal konsep cara produksi (mode of production), misalnya cara produksi feodal, cara produksi kapitalis, dan cara produksi sosialsi, yang ketiganya memiliki perbedaan. Misal dalam kapitalisme terdapat pasar bebas, akumulasi modal yang cepat dan sebagainya. Namun, kenyataan yang sesungguhnya dalam masyarakat tidak hitam putih seperti itu. Adanya cara peralihan seperti dari cara produksi feodal ke kapitalis bukan terjadi pada hitungan hari, tetapi memakan waktu yang lama dan pada waktu peralihan yang lama inilah terjadi percampuran dari dua atau lebih cara produksi. Oleh karena itu, gejala di mana beberapa cara produksi ada bersama disebut dengan formasi sosial.

Teori Artikulasi disebut juga sebagai teori yang memakai pendekatan cara produksi. Pada teori ini, persoalan keterbelakangan dilihat dalam lingkungan proses produksi. Bagi teori artikulasi, keterbelakangan di negara-negara dunia ketiga harus di dilihat sebagai kegagalan dari kapitalisme untuk berfungsi secara murni. Sebagai akibat dari adanya cara produksi lain di negara-negara tersebut.

Warren membantah inti teori ketergantungan, yakni bahwa perkembangan kapitalisme di negara-negara pusat dan pinggiran berbeda. Kapitalisme di negara manapun sama. Oleh karena itu, tesis warren cenderung menjadi ahistoris dan dekat dengan teori para ahli ilmu sosial liberal. Inti dari kritik Warren adalah bahwa dalam kenyataannya, negara-negara yang tergantung menunjukkan kemajuan dalam pertumbuhan ekonomi dan proses industrialisasinya. Bahkan kemajuan ini menunjukkan bahwa negara-negara yang tergantung ini sedang mengarah pada pembangunan yang mandiri.


D.   Sumber:
-     * Budiman, Arief. 1995. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta ; PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI.

Jumat, 09 Desember 2011

Perempuan Idaman ?


Saya merasa gelisah setelah membaca tulisan di sebuah blog yang mengatakan “Perempuan yang cantik luar dalam adalah perempuan idaman semua laki-laki untuk diperistri di dunia dan akhirat”Dengan membaca ini, saya kemudian berpikir apakah tujuan perempuan hidup memang adalah menjadi istri seorang laki-laki dan perempuan ditakdirkan untuk dikejar-kejar para lelaki. 

Membahas perempuan memang selalu menarik bagi saya. Apalagi banyak yang mengatakan “begitu banyak karya tulisan mengenai perempuan yang di tulis oleh lelaki bukan oleh perempuan”…dengan demikian saya mengambil kesimpulan, perempuan harus menulis tentang dirinya, karana hanya perempuan lah yang tahu bagaimana perempuan sebenarnya.

Defenisi cantik yang menjadi karakter dari sebuah keindahan menjadi lekat pada diri perempuan. Pelekatan cantik yang dimaknai beberapa orang berbeda-beda tergantung konstruk citra yang telah dikonsumsi orang tersebut. Misalnya saja, saya dapat mengatakan bahwa perempuan yang mengurai rambut panjang dan berpakaian kasual serta betubuh semampai itu cantik. Ini ditinjau dari subyektifitas saya sendiri. Lain lagi jika ada yang mengatakan perempuan yang memakai jilbab itu cantik karena menutupi auratnya dan bahkan sebagian besar masyarakat berpikir bahwa perempuan yang memakai jilbab itu sudah pasti berhati baik.

Tanpa sadar kita terhegemoni oleh sebuah stereotype ISTRI IDAMAN yang mengandung arti bahwa perempuan adalah sesuatu yang harus terus menerus memproduksi citra yang dikonsumsi lelaki. Ada sebuah potongan ayat yang masih digunakan beberapa orang untuk MELEGITIMASI kepemimpinan lelaki terhadap perempuan, “arrijalu qawwamuna ’alannisa. Mereka mengartikannya dengan lelaki adalah pemimpin perempuan. Apakah memang qawwamun berarti pemimpin? Paling tidak ada orang alim lain yang bilang bahwa kata qawwamun sebenarnya bisa berarti pelindung, pemelihara, penjaga, bahkan pelayan

Kalau kita tilik asbabunnuzul ayat ini, mungkin yang paling sesuai adalah jika qawwamun diartikan dengan pelindung atau pemelihara. Suatu ketika ada seorang perempuan datang kepada Nabi, mengadukan pemukulan yang dilakukan suaminya karena penolakannya untuk berhubungan suami-istri. Nabi menjawab bahwa suaminya layak untuk mendapat pembalasan pukulan. Lalu turunlah ayat ini.

Kalau dibaca kelanjutan dari ayat ini, bima fadhalallahu ba’dhahu ’ala ba’dhin, dapat ditafsirkan bahwa semestinyalah lelaki itu melindungi perempuan dengan apa yang Allah lebihkan pada lelaki daripada perempuan, yakni kelebihan kemampuan fisik. Tidak pantas bagi seorang lelaki beradu pukul dengan perempuan, karena hampir pasti dia menang.

Selanjutnya ayat ini berujar, wabima anfaqu biamwalihim, yang mengaitkan peran perlindungan tersebut dengan penafkahan kepada istri oleh suami yang lazim di jaman itu, walau makin berkurang kelaziman tersebut di jaman sekarang. Singkatnya, ayat ini sebenarnya bukan menegaskan kepemimpinan laki-laki terhadap perempuan tapi mengharuskan perlindungan kepada perempuan berupa perlindungan fisik dan juga perlindungan ekonomi. Jika ruh ayat ini ingin diperjuangkan, memberikan kemerdekaan ekonomi kepada perempuan melalui pembukaan kesempatan bagi mereka untuk berkarya merupakan tindakan yang paling sesuai dengan kehendak tuhan. Bukan dengan meminta mereka taat kepada laki-laki, bukan menguasai mereka dengan ketergantungan ekonomi.

Akan tetapi yang terjadi hari ini malah sebaliknya. Dalam konteks sosio-kultural, perempuan masih harus hadir dengan citra cantik yang harus terus menerus di reproduksi dan layak dikunsumsi lelaki, serta di beberapa daerah di Indonesia adalah hal yang tabu jika seorang perempuan bersuara tentang kemerdekaannya. Tidak sedikit hanya menjadi tertawaan para lelaki di ruang-ruang publik. Maka dari itu, perempuan seyogyanya diberi kebebasan untuk mempelajari apapun agar mampu berdiri pada kehendak bebasnya. Dengan demikian, laki-laki juga tak akan kerepotan dengan tuntutan harus memenuhi segala hal dalam rumah tangga sebab itu akan menjadi tanggung jawab bersama kelak jika perempuan juga dapat survive menghadapi tantangan hidup. 


Sebenarnya masih panjang sih...masih banyak yang berseliweran di pikiran saya, tapi tunggu moodnya enak baru nulis lagi.  :)

*Sumber : http://jack-separo.blogspot.com/2009_04_01_archive.html

Kamis, 02 Juni 2011

cerita hari ini

Untuk hari ini yang sedemikian rupa membelenggu pikiranku. Dimulai dengan usaha untuk berhemat, kelaparan pukul  04.00 pagi sampai berita tentang nenekku yang masuk rumah sakit. Kau lagi-lagi menolongku dengan membelikanku makanan pada subuh tadi, dan saya pikir, kita memang harus saling tolong karena kita adalah keluarga. Sayangnya, sore ini, saya merasa sangat terintimidasi dengan ulah yang sering kau lakukan. Tanpa kau sadari....kekerasan simbol di balik kata-katamu begitu bermakna di pikiranku sampai menembus batas-batas toleransi di hatiku. Akhirnya...berakhir dengan pertanyaan apakah kau masih seperti dahulu yang berpikir aku mengekangmu padahal kau yang membuatnya menjadi sulit. Ini pertanyaan yang bertahan dan membatin di kepalaku. Closing statementnya adalah saya merusak. Seperti lagunya Iwan Fals...."kenyataan itu begitu pahit....". Hei! kita sama-sama bebas dalam artian kita tetap menghargai perasaan satu sama lain.

Rabu, 09 Maret 2011

Apa yang kalian lihat ?

Bau anyir tercium  di area itu.
 Di kiri-kanan terdapat rumah-rumah berdinding seng dan tripleks, nyaris beratapkan awan.
Hujan mengguyur dengan deras diikuti tatapan sendu seorang ibu yang sedang memetik sayurannya.
Terdengar derap langkah kaki anak-anak kecil dalam rumah yang mirip kardus itu.
Dan tangan Ibu yang kedinginan menyuapi anaknya.
Kakek dan nenek yang menimbang plastik serta dua anak yang memisahkan sampah .
Anjing pun ragu untuk terbangun dari tidurnya untuk melihat apa yang terjadi di hadapannya.
Kaki berlumur lumpur berwarna cokelat kehitaman melangkah mendekati penjual jajanan di tengah lingkungan itu. ….
Mungkin anak itu bingung mengapa orang-orang seperti kami melihat ke arahnya, mengapa orang-orang seperti kami mau melihatnya.
“apa yang mereka lihat?” batin anak itu…dan dia melangkahkan kakinya menjauh.

Selasa, 08 Maret 2011

Hari Perempuan se-Dunia "?"

Kemerdekaan perempuan untuk berekspresi sejak 1909 diperingati dalam  suatu  kesepakatan yang masyarakat dunia sebut “hari perempuan”. Pada awalnya kemunculannya, hari perempuan sedunia dilakukan untuk menyerukan  kemerdekaan, kesetaraan dan kebersamaan dengan  mendukung perolehan hak suara bagi perempuan sedunia. Memang pantas jika kita masih mengenang para perempuan yang menoreh catatan sejarah dalam kehidupan partisipatifnya di masyarakat. Tetapi jika dianalisis lebih jauh, ketika dulu perempuan berkomitmen berjuang untuk memperoleh hak suaranya, serta merta gerakan itu dimanfaatkaan oleh “kuasa tak nampak” untuk dijadikan komoditas politik pihak-pihak tertentu, yang tentunya bukan perempuan yang diuntungkan. Mungkin ada simbiosis mutualisme yang terjalin antara perempuan dan aktor yang bermain dalam lingkaran politik tetapi jika diakumulasi itu tidaklah memadai dibandingkan keuntungan yang di dapatkan para kapitalis.

Perempuan kemudian mendapatkan hak suaranya dan merasakan kebebasan untuk bertindak lebih terbuka sedangkan para kapitalis memanfaatkan situasi itu dengan sampul “meng-elu-kan” perempuan. Akhirnya, mereka mereproduksi citra perempuan yang modern dengan sebutan “wanita karir” adalah perempuan yang mampu memperoleh pekerjaan di ruang-ruang publik sama seperti laki-laki. Dibentuklah organisasi-organisasi keperempuanan oleh pemerintah untuk mewadahi suara perempuan. Dikumandangkanlah hari-hari sebagai momentum pengagungan bagi perempuan seolah-olah perempuan makhluk paling spesial yang mesti disorot pada hari-hari tertentu saja, dan keesokan harinya tidak memiliki arti apapun.

Perempuan pun mulai melangkah meninggalkan rumah. Ironinya, para anak kehilangan tempat mereka untuk bernaung dalam sebuah keluarga yang menjadi penopang hidup mereka.. Terciptalah penerus-penerus kehidupan yang tidak memiliki kasih sayang dan buas dengan kebebasan.

Hari ini diperingati sebagai hari perempuan sedunia. Di Seoul, hari perempuan sedunia diperingati dengan tarian seksi dancer yang membawa spanduk di tengah jalan. Apakah hal ini patut dikatakan sebagai bentuk perjuangan yang dapat dimaknai sebagai penyampaian pesan kepada dunia bahwa hari ini perempuan bebas menentukan pilihan? Mungkin saja, perempuan hari ini tidak sadar akan apa yang mereka lakukan. Mengatakan sadar tetapi melanggengkan bentuk-bentuk diskriminasi sama saja dengan tidak sadar.. Tapi apakah kita sudah betul-betul sadar akan pilihan kita untuk memperjuangkan kebebasan perempuan? Ataukah tindakan kita hari ini hanyalah memperparah eksploitasi perempuan.