Jumat, 18 Juni 2010

Untuk orang-orang yang ingin kulupakan

Aku ingat disaat kalian berkenalan dengan tanganku yang masih kecil, tangan yang blum tau melakukan dosa.

Aku ingat kalian berkata yang manis padaku di saat aku menginginkan sesuatu, keinginan yang sampai sekarang tidak pernah kalian hadirkan untukku.

Aku ingat aku besar sendirian.

Aku ingat semuanya.

Tapi untuk apa aku mengingat saat-saat kalian menjual lagi kemanisan itu untukku?

Di saat kalian mengangkatku tinggi sekali dalam kerendahan ku yang kalian buat seolah-olah itu kesalahan orang lain.

Aku mencintai mereka lebih dari kalian.

Aku sangat ingin melupakan kalian.

Andaikan aku di beri kesempatan menjadi tokoh utama dalam film "moment to remember" yang ingin aku lupakan adalah saat- saat barusan.

Saat-saat aku terpojokkan oleh sikap kalian yang sangat egois.

Semoga kubur tak memangsa kalian dan dendamku berakhir setelah meluapkan perasaanku dalam catatan ini.

Ataukah biar Tuhan yang melaknatku atas ini.

Aku benci kalian...benci sekali.

Aku akan melupakan semua tentang kalian kecuali kata-kata yang terakhir kalian ucapkan kepadaku.

Aku tak peduli bumi tak menerimaku atas semua ini.

Jangan pernah melakukannya lagi, atau aku tak hanya melupakan kalian.

Tangan ku yang dahulu tak berdosa akan mencari kalian.

Tahukah kau wajahmu memiliki topeng yang buruk?

Semua orang mendadak jadi tak memiliki rasa malu.
Hingga hanya kelaminnya yang ia tutupi.
Kasihan...
Mereka telah dikuasai ego dan kemunafikan.

Pernahkah kau melihat markisa?
Yang warnanya kuning dan cantik, ternyata isinya kecut.
Itu seperti mereka yang senyuman manisnya dilemparkan ke sekitar,
Tapi ternyata dendam dan rasa ingin menghancurkan ada di dalam dada.

Serasa ingin ku robek wajahmu yang sok tau itu
Ocehanmu yang sopan tapi kosong...membuatku tertawa di relung hatiku.
Mengapa kau begitu bodoh dalam drama ini?
Drama yang dia buat seolah kau sudah sukses dengannya.

Aku tak akan tunduk kepadamu hanya karena dimana kau berpijak sekarang.
Dirimu hanya sebuah ilusi yang kau buat untuk menenangkan jiwamu yang miskin.

Tahukah kau?
Superioritasmu tak berarti bagiku.
Bukan aku yang pantas mengadilimu.
Semoga kau dapat belasan yang setimpal dan aku hanya bisa mendoakannya tanpa mengutukmu.

Tawaku berkumandang untuk hati kalian yang tak tenang, untuk hati kalian yang sedang bergetar melihat kebencianku.
Untuk tanda tanya di kepala kalian yang penuh ego dan kemunafikan itu.