Teori Pasca Ketergantungan
a. Pendahuluan
Teori-teori
tentang pembangunaan setelah munculnya teori
ketergantungan memang menjadi semarak. Karena itu, lepas dari
kelemahan-kelemahan yang ada pada teori ketergantungan, munculnya teori ini,
tidak bisa disangkal, telah memberi
persfektif baru pada teori-teori pembangunan pada umumnya.
Salah
satu persfektif penting yang diberikan adalah bahwa aspek eksternal dari
pembangunan menjadi penting. Sebelumnya aspek tersebut kurang dianggap
berperan. Negara-negara lain hanya dianggap sebagai mitra dagang, yang sering
kali sangat membantu proses pembangunan
yang terjadi di suatu negara.
Ataupun dianggap menghambat, karena negara
itu sangat besar kekuatan ekonominya, sehingga negara yang sedang membangun tidak bisa
bersaing dengan mereka.
Teori ketergantungan menunjukkkan bahwa negara-
negara yang ekonominya lebih kuat bukan saja menghambat Karena menang dalam
bersaing, tetapi juga ikut campur dalam mengubah struktur sosial, politik,
dan ekonomi dan negara
yang lebih lemah. Kekuatan-kekuatan
eksternal itu lebih diinternalisasikan oleh negara
yang lemah, sehingga tercipta sebuah struktur ketergantungan didalam negeri. Proses perubahan struktural inilah yang dipeajari
oleh Cardoso melalui kasus-kasus
yang di negara-negara
Amerika Latin. Walaupun
tidak ada teori tunggal yang dapat menjelaskan teori ketergantungan, namun
tedapat tiga ciri persamaan atas definisi yang disepakati oleh para ahli teori
ketergantungan.
Pertama,
ketergantungan membentuk sistem internasional yang terdiri dari dua negara yang
digambarkan sebagai dominan/ tergantung, pusat/ periferi atau metropolitan/ satelit. Negara-negara
dominan adalah negara maju yang mempunyai kemajuan industri dan tergabung dalam
Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Sedangkan negara-negara
tergantung adalah Amerika Latin, Asia dan Afrika yang memiliki pendapatan per
kapita yang rendah serta bergantung sepenuhnya kepada ekspor satu jenis
komoditi untuk memperoleh devisa (foreign exchange).
Kedua,
dengan asumsi yang sama bahwa
adanya kekuatan (dorongan) dari luar merupakan satu-satunya aktivtas ekonomi
yang penting di dalam negara-negara yang bergantung. Kekuatan luar ini
termasuklah Perusahaan Multi National (MNC’s) MNC, pasar komoditi internasional,
bantuan luar negeri, komunikasi dan berbagai bentuk lainnya yang oleh
negara-negara maju digunakan untuk kepentingan ekonomi mereka di luar negeri.
Ketiga,
pengertian ketergantungan menunjukkan bahwa hubungan antara negara yang
mendominan dan yang bergantung adalah dinamis, karena interaksi antara dua
negara bukan hanya untuk saling menguatkan, tetapi juga untuk meningkatkan
pola/ corak
yang tidak merata dalam pembagian ekonomi. Seperti dinyatakan di atas,
bahwa teori ketergantungan pertama kali dikemukakan oleh Prebisch dan
dikemukakan kembali oleh ahli teori Marxis, Andre Gunder Frank dan diperlunak
oleh Immanuel Wallerstein melalui teori sistem dunia. Teori ketergantungan
menjadi popular pada 1960-an dan 1970-an sebagai kritik terhadap ahli teori pembangunan
popular yang dilihat gagal untuk menjelaskan isu kemiskinan yang semakin
meningkat di sebagian besar dunia.
Dalam
teori pasca ketergantungan ( perkembangan kekinian) ada beberapa teori yang
dibahas dalam makalah ini yaitu , Teori Liberal dan juga Teori Artikulasi oleh
Bill Warren.
B. Pembahasan
·
Teori
Liberal
Teori liberal pada dasarnya tidak
banyak dipengaruhi oleh teori
ketergantungan, teori liberal tetap berjalan seperti sebelumnya yakni mengukuti
asumsi-asumsi bahwa modal dan investasi adalah masalah utama dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi. Kritik terhadap teori liberal pada umumnya berkisar pada ketajaman definisi
dari teori ketergantungan. Definisi yang ada dianggap terlalu kabur, sulit
dijadikan sesuatu yang operasional. Tanpa kejelasan dan ketajaman konsep-konsep dasarnya, teori
ketergantungan lebih merupakan sebuah retorika belaka. Agar konsep
ketergantungan dapat di pakai untuk menyusun teori, maka ada dua kriteria yang
harus dipenuhinya, yaitu:
a. Gejala
ketergantungan ini harus hanya ada di negara-negara yang ekonominya mengalami
ketergantungan dan tidak di negara yang tidak tergantung dengan negara lain.
b. Gejala
ini mempengaruhi perkembangan dan pola pembangunan di negara-negara yang tergantung.
Dari
penelitiannya terhadap aspek ekonomi dan sosiopolitik dari gejala
ketergantungan, Lall melihat
bahwa gejala ini juga terdapat di negara-negara
yang dianggap tidak tergantung. Misalnya tentang dominasi modal asing. Dalam hal ini, Kanada dan Belgia akan lebih
tergantung daripada India atau Pakistan. Tetapi sulit sekali memasukkan Kanada
dan Belgia ke dalam kelompok negara-negara
yang tergantung, karena tingkat kemakmurannya yang tinggi. Baik dominasi maupun
ketergantungan merupakan gejala yang umum yang ada di negara-negara pusat maupun
pinggiran.
Teori
liberal pada dasarnya tidak banyak dipengaruhi oleh teori ketergantungan. Teori
liberal tetap berjalan seperti sebelumnya, yakni mengikuti asumsi-asumsi bahwa
modal dan investasi adalah masalah utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Teori yang dianut oleh para ahli ekonomi ini lebih mengembangkan diri pada
keterampilan teknisnya, yakni bagaimana membuat table input-output yang baik,
bagaimana mengukur keterkaitan diantara berbagai sector ekonomi dan sebagainya.
Tentu saja bukan tidak berguna. Tetapi, yang kurang dipersoalkan adalah
bagaimana faktor politik bisa dimasukkan ke dalam model mereka.
·
Bill Warren
Warren
membantah inti teori ketergantungan, yakni bahwa perkembangan kapitalisme di negara-negara pusat dan pinggiran
berbeda. Kapitalisme di negara
mana pun
sama. Oleh karena itu, tesis Warren
cenderung menjadi ahistoris dan dekat dengan teori para ahli ilmu sosial liberal.
Inti
dari kritik Warren adalah bahwa dalam kenyataannya, negara-negara yang
tergantung menunjukkan kemajuan dalam pertumbuhan ekonomi dan proses
industrialisasinya. Bahkan kemajuan ini menunjukkan bahwa negara-negara yang
tergantung ini sedang mengarah pada pembangunan yang mandiri.
Berlawanan
dengan pandangan kaum Marxis, bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa prospek
bagi sebuah pembangunan kapitalis yang berhasil di negara-negara berkembang
ternyata baik. Pembangunan yang berhasil di negara-negara Asia Timur dan
Tenggara dianggap sebagai salah satu bukti bahwa kapitalisme memang masih
bugar, masih terus bisa mengembangkan dirinya. Warren menunjukkan data-data yang memperlihatkannya bahwa setelah perang dunia
kedua, anggapan akan adanya keterbelakangan
di negara-negara pinggiran hanya
merupakan ilusi belaka. Ada enam pokok yang dibahasnya, yakni ; 1. Masalah PNB
perkapita, 2. Masalah kesenjangan sosial, 3. Masalah marginalisasi, dimana
orang jadi tersingkir dari lapangan kerjanya, 4. Masalah produksi yang diarahkan
pada barang-barang mewah dan bukan barang pada kebutuhan pokok, 5. Masalah
industrialisasi, 6. Masalah kapitalisme.
Dari
data statistik
yang dikumpulkannya, Warren
membuktikan bahwa apa yang diramalkan oleh teori ketergantungan ternyata tidak
benar. Oleh
karena itu, dia menyimpulkan : “Jadi,
berlawanan dengan pendapat umum yang ada, dunia ketiga tidak mengalami kemandekan
secara relatif
maupun absolut
setelah perang dunia ke dua. Sebaliknya,
kemajuan yang berarti dalam hal kemakmuran material dan pembangunan kekuatan
produksi telah tercapai, dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
keadaan sebelum perang. Kenyataan ini juga berlawanan dengan pandangan kaum Marxis yang menyatakan bahwa
pembangunan nasional yang mengikuti jalan kapitalis bisa terjadi di dunia
ketiga”.
Bagi
Warren, tidak bisa dicegah lagi bahwa kapitalisme akan berkembang dan
menggejala di semua negara
di dunia ini. Baru setelah kapitalisme berkembang sampai mencapai titik
jenuhnya, perubahan ke sosialisme dimungkinkan. Karena itu, memaksakan
perubahan ke sosialisme sekarang juga merupakan hal yang sia-sia, karena pada
saat ini perkembangan kapitalisme belum mencapai titik jenuhnya. Karena itu,
perkembanngan kapitalisme di Negara-negara pinggiran masih dimungkinkan.
Pembangunan yang berhasil di Negara-negara Asia Timur ( Korea Selatan, Taiwan,
Hongkong dan Singapura) dianggap sebagai salah satu bukti bahwa kapitalisme
memang masih tumbuh subur,
masih terus bisa mengembangkan dirinya.
·
Teori Artikulasi
Munculnya
teori ini dikarenakan ketidakpuasan terhadap teori ketergantungan karena pada
dasarnya pembangunan dan industrialisasi memang terjadi di negara-negara
terbelakang. Pertama
dikembangkan oleh antropolog Perancis, seperti Claude Meillassoux dan Pierre
Phillippe Rey. Teori ini melihat persoalan keterbelakangan dalam lingkungan
proses produksi, artinya keterbelakangan di negara-negara Dunia Ketiga harus dilihat
sebagai kegagalan dari kapitalisme untuk berfungsi secara murni, sebagai akibat
dari adanya cara produksi lain di negara-negara tersebut.
Teori
artikulasi bertitik tolak dari
konsep Formasi Sosial. Dalam Marxisme
dikenal konsep cara produksi (mode of production), misalnya cara produksi
feodal, cara produksi kapitalis, dan cara produksi sosialis, yang ketiganya memiliki
perbedaan. Misal dalam kapitalisme terdapat pasar bebas, akumulasi modal yang
cepat dan sebagainya. Namun, kenyataan yang sesungguhnya dalam masyarakat tidak
hitam putih seperti itu. Adanya cara peralihan seperti dari cara produksi
feodal ke kapitalis bukan terjadi pada hitungan hari, tetapi memakan waktu yang
lama dan pada waktu peralihan yang lama inilah terjadi percampuran dari dua
atau lebih cara produksi. Oleh karena itu, gejala di mana beberapa cara
produksi ada bersama disebut dengan formasi sosial.
Jika teori ketergantungan melihat bahwa kapitalisme yang menggejala di
negara-negara pinggiran berlainan dengan kapitalisme yang menggejala di
negara-negara pusat, maka teori artikulasi berpendapat bahwa kapitalisme di
negara-negara pinggiran tidak dapat berkembang karena artikulasinya, atau
kombinasi unsur-unsurnya tidak efisien. Dengan kata lain, kegagalan dari kapitalisme
di negara-negara pinggiran bukan karena yang berkembang di sana adalah
kapitalisme yang berbeda, tetapi karena koeksistensi cara produksi kapitalisme
dengan cara produksi lainnya (kemungkinan) saling menghambat.
Teori
Artikulasi bertitik tolak dari konsep formasi sosial. Dalam Marxisme dikenal
konsep cara produksi. Masing-masing cara produksi mempunyai ciri yang berlainan
dengan cara produksi lainnya. Namun dalam kenyataannya di dalam masyarakat
selalu terdapat lebih dari satu cara produksi secara bersama-sama. Inilah yang
disebut formasi sosial, yaitu gejala dimana beberapa cara berproduksi ada
bersama.
Dalam
teori artikulasi kapitalisme di
negara-negara pinggiran tidak bisa berkembang karena artikulasinya atau
kombinasi unsur-unsurnya tidak efisien. Ada banyak unsur penghambatnya. Bagi teori artikulasi kegagalan dari
kapitalisme di negara-negara pinggiran bukan karena yang berkembang di sana
adalah kapitalisme yang berbeda, tetapi karena koeksistensi cara produksi
kapitalisme dengan cara produksi lainnya bersifat saling menghambat. Teori artikulasi disebut juga
sebagai teori yang memakai pendekatan cara produksi. Pada teori ini, persoalan
keterbelakangan dilihat dalam lingkungan proses produksi. Bagi teori
artikulasi, keterbelakangan
di negara-negara dunia ketiga harus di dilihat
sebagai kegagalan dari kapitalisme untuk berfungsi secara murni. Sebagai akibat
dari adanya cara produksi lain di negara-negara
tersebut.
·
Immanuel Wallerstein;
Teori Sistem Dunia
Teori
ini berpendapat bahwa dulu di dunia
terdapat sistem-sistem kecil atau sistem mini dalam
bentuk kerajaan atau bentuk pemerintahan lainnya. Kemudian terjadi
penggabungan-penggabungan, baik melalui penaklukan secara militer maupun secara
sukarela.
Sebuah
kerajaan besar kemudian muncul. Meskipun tidak sampai menguasai seluruh dunia,
tetapi karena besarnya yang luar biasa dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan
yang ada sebelumnya, kerajaan ini disebut sebagai kerajaan dunia atau world
empire.
Kerajaan dunia ini mengendalikan kawasannya melalui sebuah sistem politik yang dipusatkan.
Kerajaan dunia ini mengendalikan kawasannya melalui sebuah sistem politik yang dipusatkan.
Perkembangan
teknologi perhubungan dan perkembangan di bidang lain kemudian memunculkan
sistem perekonomian dunia yang menyatu. Dengan kata lain, sistem perekonomian
dunia adalah satu-satunya sistem dunia yang ada. Sistem dunia inilah yang
sekarang ada sebagai kekuatan yang menggerakkan negara-negara di dunia. Sistem
dunia yang ada sekarang adalah kapitalisme global.
C. Kesimpulan
Teori
liberal pada dasarnya tidak banyak dipengaruhi oleh teori ketergantungan, teori
liberal teteap berjalan seperti sebelumnya yakni mengukuti asumsi-asumsi bahwa
modal dan investasi adalah masalah utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Kritik terhadap teori liberal pada umumnya berkisar pada ketajaman definisi
dari teori ketergantungan. Definisi yang ada dianggap terlalu kabur, sulit
dijadikan sesuatu yang operasional. Tanpa kejelasan dan ketajaman konsep-konsep dasarnya, teori
ketergantungan lebih merupakan sebuah retorika belaka. Teori yang dianut oleh para
ahli ekonomi ini lebih mengembangkan diri pada keterampilan teknisnya, yakni
bagaimana membuat table input-output yang baik, bagaimana mengukur keterkaitan
diantara berbagai sektor
ekonomi dan sebagainya. Tentu saja bukan tidak berguna. Tetapi, yang kurang
dipersoalkan adalah bagaimana faktor politik bisa dimasukkan ke dalam model
mereka.
.Teori
Artikulasi bertitik tolak dari konsep Formasi Sosial. Dalam marxisme dikenal
konsep cara produksi (mode of production), misalnya cara produksi feodal, cara
produksi kapitalis, dan cara produksi sosialsi, yang ketiganya memiliki
perbedaan. Misal dalam kapitalisme terdapat pasar bebas, akumulasi modal yang
cepat dan sebagainya. Namun, kenyataan yang sesungguhnya dalam masyarakat tidak
hitam putih seperti itu. Adanya cara peralihan seperti dari cara produksi
feodal ke kapitalis bukan terjadi pada hitungan hari, tetapi memakan waktu yang
lama dan pada waktu peralihan yang lama inilah terjadi percampuran dari dua
atau lebih cara produksi. Oleh karena itu, gejala di mana beberapa cara
produksi ada bersama disebut dengan formasi sosial.
Teori Artikulasi disebut juga sebagai teori yang memakai pendekatan cara
produksi. Pada teori ini, persoalan keterbelakangan dilihat dalam lingkungan
proses produksi. Bagi teori artikulasi, keterbelakangan di negara-negara dunia ketiga harus di dilihat
sebagai kegagalan dari kapitalisme untuk berfungsi secara murni. Sebagai akibat
dari adanya cara produksi lain di negara-negara
tersebut.
Warren
membantah inti teori ketergantungan, yakni bahwa perkembangan kapitalisme di negara-negara pusat dan
pinggiran berbeda. Kapitalisme di negara manapun sama. Oleh
karena itu, tesis warren cenderung menjadi ahistoris dan dekat dengan teori
para ahli ilmu sosial
liberal. Inti
dari kritik Warren adalah bahwa dalam kenyataannya, negara-negara yang
tergantung menunjukkan kemajuan dalam pertumbuhan ekonomi dan proses
industrialisasinya. Bahkan
kemajuan ini menunjukkan bahwa negara-negara yang tergantung ini sedang
mengarah pada pembangunan yang mandiri.
D. Sumber:
- * Budiman, Arief. 1995. Teori
Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta ; PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI.