Sabtu, 12 September 2009

Renungkanlah

Dengan ini kita dapat merasakan perut seorang anak yang dipaksa atau terpaksa menengadahkan telapak tangannya di bawah terik matahari.
Dengan ini kita dapat merasakan peluh tukang becak atau tukang batu yang memeras keringat di tengah debu kendaraan yang selalu tak sadar kita buang dengan bangganya ke udara yang siap mereka hirup.
Dengan ini kita dapat merasakan amarah yang terpendam dan merelakannya seperti ketika mencaci orang lain dan orang itu bersabar mendengarnya.

Kita bukanlah kata isapan jempol seorang yang apatis memaknai hidup dan mengatakan kita adalah "kita??Lo aja kali!!!"

Tapi kita adalah kegelapan yang menuju cahaya.

Buku dan Kisah Masa Depan

Buku…
Cakrawala yang terbentang di dalamnya akan menjadi bagian terpenting dalam hidup kita.
Sesuatu yang akan membawa kenangan ke masa dimana tak ada lagi kesempatan untuk menceritakan kisah kita.
Kisah tentang awal dia memaksaku membaca perempuan dalam budaya patriarkat, dan kisah itu mengawali semua kisah baru dalam hidupku.

Suatu hari nanti, anak kita akan membaca buku-buku yang kita kumpulkan…
suatu hari ketika buku-buku seperti ini tak di jual lagi di toko buku…
hari dimana buku-buku ini tak lagi “boleh” untuk di bacakan…
seperti hari dimana kenangan kita yang direnggut oleh “distro” syndrome.

Anak kita akan bangga…
Bukan uang, rumah mewah, atau pun tanah yang kita wariskan…
Tapi kumpulan buku yang menjadi bekal kehidupannya kelak, sampai ke cucu-cucu kita.
Bahkan bisa memamerkannya kepada temannya, bahwa dia berani menantang zaman.
Juga bisa memperlihatkan pada kekasihnya nanti, dan mengatakan “ ayah dan ibuku sangat menyayangiku”…

Buku…
Akan kujaga kau untuk kisah masa depan….

Menggugat yang sok tau n sok tua

aku baru terlahir kemarin..
Tapi aku tak membayangkan kalau ada orang yang dengan sombongnya menggunakan kebodohannya untuk menyerang orang lain...

aku bukan mereka,
Tapi aku merasakan apa yang mereka rasakan ketika apa yang ditanamnya ingin di cabut oleh orang lain yang tak mengerti arti pentingnya bibt itu.

menurutmu aku tak tahu apa-apa...
Tapi aku bersyukur tahu ketidak tahuanku sedangkan kau merasa tahu tapi ternyata tak tahu apa-apa...