Sungguh aneh...
Sejak dulu semangat kapitalis telah ada. Sebelum adanya teori ekonomi yang membahas itu. Semenjak pra-Islam, kondisi sosial sudah carut-marut. Sangat disayangkan, kehidupan zaman dulu masih berkutat pada keserakahan-kekayaan serta kelemahan-ketakutan.
Contohnya saja, seorang anak perempuan dianggap aib jika terlahir ke dunia ini. Pilihannya adalah jika terlahir, dia harus menikah dengan lelaki yang mertabat atau kekayaannya tinggi. Jika tidak seperti itu, pilihan lainnya adalah “dikubur hidup-hidup”. Ini terjadi pada masa pra-Islam di suku-suku Quraisy. Sampai sekarang pun, di beberapa “mindset” tradisional oleh para orang tua, tertanam pikiran untuk harus memiliki keturunan laki-laki dan jika anak pertama adalah perempuan, maka itu berarti kesialan. Padahal dalam Al-Qur’an sudah jelas dikatakan bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama dihadapan-Nya dan yang membedakan mereka hanyalah amalannya. Sungguh tragis dan ini bertahan hingga saat ini.
Dan peristiwa ini terjadi terus-menerus, orang-orang tetap mempercayai hal ini.
Sama saja dengan mindstream masyarakat modern, mendesak perempuan untuk turun aktif dan bekerja keras layaknya perempuan yang di eksploitir.
Apakah mereka tidak mempertimbangkan satu hal saja....bumi ini. Jika perempuan semakin sedikit dan jumlah lelaki semakin banyak, maka yang terjadi adalah terhentinya proses kelahiran individu baru sebagai penerus manusia yang menumpang di bumi ini. Tak akan ada lagi anak-anak terlahir dan bumi akan asing dengan suara tangisan bayi. Apakah manusia memang ingin segera punah dari bumi ini? Apa alasannya? Apakah karena yakin hari-hari ini akan terulang kembali? Ataukah ini sama sekali tak terpikirkan sebelumnya? Ataukah kau merasa kau tak bertanggung jawab atas secuil tindakan yang kau lakukan?