Selasa, 29 September 2009

Pengekstasian Diri

Hari ini kita dapat menyaksikan sendiri sistem sedang memanjakan kita dengan sederet kenyamanan sehingga kita bisa saja tak berani lagi melangkah ke posisi “tidak nyaman” dalam segala aspek kehidupannya. Sejak lahir, bayi yang terbiasa disusui oleh ibunya akan menangis ketika tiba-tiba tak disusui oleh ibunya. Mereka menangis karena mereka sama dengan orang dewasa yang merasa lapar. Tetapi bayi-bayi itu menangis karena hanya itu yang mereka bisa lakukan. Sedangkan orang dewasa dapat berjalan dan membuat dirinya sendiri makanannya tanpa harus menunggu Ibu mereka mendatanginya dan menyusuinya.

Selanjutnya, di umur 1-6 tahun kebanyakan anak yang kondisi ekonomi keluarganya ada dalam taraf ekonomi menengah keatas akan dimanjakan dengan berbagai permainan yang diberikan orang tuanya sedangkan anak yang keluarganya berekonomi rendah akan mulai diperkenalkan pola kehidupan yang mandir dan terbisasa menciptakan sendiri permainannya. Klasifikasi seperti ini saya buat bukan untuk membeda-bedakan mereka tapi sebagai bahan kita melihat bagaimana sebenarnya situasi kita hari ini.

Hari ini, kita seperti kasus anak kecil ini, tapi tidak tertutup kemungkinan klasifikasi di atas sudah tidak ada lagi. Kita menjadi sering terbiasa meminta bantuan teman unutk mengerjakan tugas sekolah misalnya. Mulai menuju usia yang lebih tua, akibat pengaruh yang ditimbulkan media, seorang perempuan akan mulai mendandani dirinya dengan berbagai alat kosmetik dan seorang pemuda akan mulai keranjingan alat-alat otomotif. Bahkan tidak sedikit laki-laki yang juga ikut berdandan. Mereka-mereka yang “mengikuti” mode ini bisa kita ibaratkan bayi yang sangat bergantung dengan Ibunya untuk disusui. Tapi mereka tidak membutuhkan susu. Yang mereka butuhkan adalah majalah, siaran televisi yang menayangkan model-model busana saat ini, model-model riasan wajah, dan lainnya. Dan ketika mereka tak mendapatkan atau memperolehnya, mereka akan merasa tertinggal dan menyesali diri mereka, bahkan rasa cemburu bisa timbul melihat yang lain mendapatkan apa yang mereka tidak dapatkan.

Sungguh ironis, hari ini kita juga dimanjakan oleh beberapa fasilitas yang bertaraf eksklusif dan mahal seperti tempat bermain misalnya. Tempat bermain sekarang tidak dirancang lagi untuk anak-anak tapi juga untuk orang dewasa. Saya setuju kita butuh mengistirahatkan diri dari segala kepenatan kita dalam rutinitas yang padat. Tapi bukan berarti tempat-tempat eksklusif seperti ini bisa kita gunakan untuk memanjakan diri kita sedang masih banyak pula tempat-tempat yang murah meriah dan masih tetap dapat menimbulkan kesenangan. Menurut saya, perasaan senang bukan dipengaruhi oleh seberapa ekslusif dan mahalnya suatu tempat rekreasi tetapi semampu apakah sebuah lingkungan dapat membuat orang dapat memperoleh rasa estetik tersendiri dari apa yang mereka lakukan. Saya tidak bermaksud memaksakan pendapat saya kepada pembaca, tapi sangat disayangkan ketika barang-barang atau tempat-tempat seperti ini menjadi “Tuhan-Tuhan” baru bagi para ramaja.

Mengapa? Karena di usia remaja, proses belajar atau menguasai keilmuan sangatlah penting untuk bekal kehidupan di usia selanjutnya. Bayangkan saja ada berapa banyak uang yang dihabiskan para remaja untuk mengkonsumsi tempat-temat mewah sedangkan masih banyak anak jalanan yang mmbutuhkan uang itu untuk memperoleh sesuap nasi. Mari kita bandingkan seratus ribu rupiah untuk bermain di tempat mahal dan seratus ribu rupiah untuk memberi makan 20 anak jalanan atau membeli buku.

Penyerangan yang dilakukan sistem ini juga merambah ke barang-barang yang tidak kita sadari telah banyak kita konsumsi. Khusus di bulan Ramadhan misalnya, sangat disayangkan lagi uang ratusan ribu dipakai untuk membeli kebang api, petasan, dan sebagainya. Mari kita bandingkan lagi uang itu kita belanjakan untuk kemudian barang yang kita beli itu dibakar dan melihat sesuatu yang mungkin “wah” dan uang itu kita zakatkan. Perlu kita ingat, harta itu harus kita bagi. Dalam Islam juga diatur ketentuan untuk membagi sekian persen harta yang kita miliki untuk orang yang tidak mampu. Dan lagi-lagi kebanyakan dari kita pun sudah merasa dirinya mengetahui ini, tapi tetap mengalami stagnasi. Kalau untuk yang satu ini saya juga tidak mengerti mengapa orang lebih sombong dengan ketidaktahuannya.

Sangat mengherankan bukan? Dan sekali lagi kisah anak kecil di atas menjadi terulang dengan pola perilaku orang-orang sekarang yang katanya “modern”. Bisa saja kamu, atau orang yang disampingmu sedang melakukannya. Apa kamu mau tinggal diam? Seseorang akan lebih merasakan makna dari pengetahuannya ketika pengetahuan itu diaktualisasikan ketimbang pengetahuan itu disimpan dan ber-”onani” sendiri dengan teori tanpa aplikasi.

Sabtu, 12 September 2009

Renungkanlah

Dengan ini kita dapat merasakan perut seorang anak yang dipaksa atau terpaksa menengadahkan telapak tangannya di bawah terik matahari.
Dengan ini kita dapat merasakan peluh tukang becak atau tukang batu yang memeras keringat di tengah debu kendaraan yang selalu tak sadar kita buang dengan bangganya ke udara yang siap mereka hirup.
Dengan ini kita dapat merasakan amarah yang terpendam dan merelakannya seperti ketika mencaci orang lain dan orang itu bersabar mendengarnya.

Kita bukanlah kata isapan jempol seorang yang apatis memaknai hidup dan mengatakan kita adalah "kita??Lo aja kali!!!"

Tapi kita adalah kegelapan yang menuju cahaya.

Buku dan Kisah Masa Depan

Buku…
Cakrawala yang terbentang di dalamnya akan menjadi bagian terpenting dalam hidup kita.
Sesuatu yang akan membawa kenangan ke masa dimana tak ada lagi kesempatan untuk menceritakan kisah kita.
Kisah tentang awal dia memaksaku membaca perempuan dalam budaya patriarkat, dan kisah itu mengawali semua kisah baru dalam hidupku.

Suatu hari nanti, anak kita akan membaca buku-buku yang kita kumpulkan…
suatu hari ketika buku-buku seperti ini tak di jual lagi di toko buku…
hari dimana buku-buku ini tak lagi “boleh” untuk di bacakan…
seperti hari dimana kenangan kita yang direnggut oleh “distro” syndrome.

Anak kita akan bangga…
Bukan uang, rumah mewah, atau pun tanah yang kita wariskan…
Tapi kumpulan buku yang menjadi bekal kehidupannya kelak, sampai ke cucu-cucu kita.
Bahkan bisa memamerkannya kepada temannya, bahwa dia berani menantang zaman.
Juga bisa memperlihatkan pada kekasihnya nanti, dan mengatakan “ ayah dan ibuku sangat menyayangiku”…

Buku…
Akan kujaga kau untuk kisah masa depan….

Menggugat yang sok tau n sok tua

aku baru terlahir kemarin..
Tapi aku tak membayangkan kalau ada orang yang dengan sombongnya menggunakan kebodohannya untuk menyerang orang lain...

aku bukan mereka,
Tapi aku merasakan apa yang mereka rasakan ketika apa yang ditanamnya ingin di cabut oleh orang lain yang tak mengerti arti pentingnya bibt itu.

menurutmu aku tak tahu apa-apa...
Tapi aku bersyukur tahu ketidak tahuanku sedangkan kau merasa tahu tapi ternyata tak tahu apa-apa...

Rabu, 29 Juli 2009

Going Under

Waktu terus berjalan,
tetapi pencerahan pun tak tampak di pelupuk.
Sang mentari lelah lagi menyinari sebagian kecil dari bumi ini.
Sayangnya...seiring dengan itu pula hiruk pikuk manusia yang mencari cahaya mulai beranjak entah kemana.
Mungkin mencari bagian bumi yang lain...
yang mendapat cahaya lebih terang.
Mungkin juga ada yang lelah menunggu dan memilih tinggal dalam kegelapan.
Sayangnya... kita tak lagi mampu mempertahankan sinar itu ketika telah sampai lagi ke bumi kita.
Mungkin kita sangat terlelap dengan keheningan sehingga tak peka akan datangnya cahaya itu.
Mungkin kau juga berpikir mungkin kesempatannya akan berulang.
Sayangnya...ketika berulang, selalu terlewatkan.