Entah mengapa ini kembali menjadi buah bibir yang hangat untuk dikonsumsi masyarakat akibat usulan seorang anggota komisi IV DPRD Jambi dari partai Amanat Nasional, Bambang Suseno di publis oleh media. Timbul kegelisahan dalam diri saya untuk meninjau kembali arti selaput itu bagi perempuan. Virgin dalam bahasa latin adalah Virgo yang berarti gadis perawan. Menurut sebuah artikel yang pernah saya baca, keperawanan membuat laki-laki merasa tertantang jika melakukan hubungan intim (yang berarti berani melawan darah). Secara medis, menurut Dr. Budi ML, SpOG, keperawanan tidak bisa diukur dari robeknya selaput dara, payudara turun atau pinggul mengendur bahkan cara berjalan yang tidak lurus. Pendarahan yang terjadi tergantung pada kandungan pembuluh darah yang terkandung di dalam selaput dara. Pendarahan akan terjadi jika kandungan pembuluh darahnya banyak, dan semakin sedikitnya kandungan pembuluh dara maka kemungkinan terjadinya pendarahan akan semakin sedikit. Bahkan dapat pula tidak terjadi pendarahan jika selaput dara tidak memiliki pembuluh darah.Seperti yang kita ketahui, perempuan sejak kecil dicekoki oleh pemikiran untuk menjaga diri agar terlindungi dari pengaruh pergaulan tidak baik dilingkungannya sampai-sampai biasanya anak perempuan akan dipingit habis-habisan. Doktrin seperti ini sejak dini ditanamkan oleh kebanyakan orang tua. Hal ini sebenarnya menjadi klasik jika kita ulas kembali, tapi saya harap tulisan ini dapat membantu kita untuk menyorot kembali ketidakadilan dalam tatanan kehidupan kita hari ini yang mungkin saja sebelum tulisan ini dibaca, kita masih tidak sadar kalau kita sedang terjebak dalam ruang hampa udara yang sebentar lagi akan menghabiskan nafas-nafas kaum perempuan.
Al-Quran menyatakan seebagai berikut: Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu baik laki-laki ataupun perempuan.” (QS. Ali Imran : 195)
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhammu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) naman-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan ( peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. an- Nisa: 1)
Al-Quran mengingatkan bahwa kita diciptakan dari jenis yang sama, yang diidentifikasi sebagai “diri yang satu”. Banyak orang telah termanipulasi riwayat-riwayat yang tidak otentik sehingga menciptakan jenis mentalitas primitif. Dan ini didukung oleh media massa yang manipulatif. Yang sering terlupakan adalah bagaimana perempuan secara aktual berusaha merealisasikan nilai-nilai idealnya, mengatasi segala kendala, dan melakukan kotribusi pada perkembangan komunitas bersama pria sehingga dapat memotivasi generasi kini dan mendatang dalam mengembangkan visi mereka sendiri. Sebuah riwayat (hadis) berkata, “perempuan seluruhnya adalah aurat”. Aurat dalam hadis tersebut berarti sesuatu yang layak ditutupi dan dilindungi.
Jika media hari ini menyorot selaput itu, ini saya maknai sebagai upaya untuk mempertontonkan aurat kepada semua orang yang mengakibatkan hilangnya peran kunci perempuan dalam masyarakat. Selaput yang menandai keperawanan seorang perempuan bukan suatu hal yang pantas untuk menjadi konsumsi publik. Coba kita pikirkan bersama, apakah berhak orang lain menjustifikasi harga diri seseorang dengan keperawanannya? Banyak perempuan yang keperawanannya direnggut akibat perkosaan di masa kecil, kecelakaan, atau bahkan seperti yang terjadi di suatu negara yang berpenduduk dominan Muslim dimana perempuan harus dipotong (maaf) kelaminnya agar tidak membuat malu keluarga jika sudah masuk usia balig (kasus ini sempat dimuat di koran tahun 2000).
Apakah hal primitif ini mesti terjadi di Indonesia? Apakah dengan ketiadaan selaput tersebut maka kita berhak mencabut haknya sebagai perempuan? Apakah arti sebuah “keperawanan” jika hanya untuk menjadi “konsumsi”? Walaupun tidak secara terang-terangan ditindak seperti fakta diatas, perempuan Indonesia seperti diperolok untuk kepentingan beberapa orang tertentu yang sekali lagi memenjarakan perempuan dengan tindakan diskriminatifnya. Bukan hanya masalah keperawanan, masih banyak lagi yang membuat telinga kita seolah-olah tuli dan membiarkan merekaberlalu seperti angin dan terjadi terus-menerus. Sangat tragis ini menjadi konsumsi media agar masyarakat tahu “proyek” pemerintah untuk menanggulangi kenakalan remaja telah sukses dilakukan. Padahal ini sama saja tidak menyelesaikan masalah, tetapi menurut saya malah justru menambah masalah baru. Perlu kita ketahui bahwa selama kebijakan negara menciptakan kesenjangan maka negara masihlah tetap belum bisa dikatakan negara yang sejahtera. Apakah kasus ini adalah sesuatu yang menimbulkan kesenjangan? Ketika aurat seseorang dipertontonkan di hadapan publik apakah ini tidak menjadi sebuah pemicu banyak perempuan teralienasi? Bahkan memperburuk mindset masyarakat utamanya para laki-laki kepada perempuan. Saya seperti melihat peristiwa primitif yang saya baca dibuku terjadi di depan mata saya. Dan para perempuan, pembaca yang budiman, saya harapkan tidak hanya bisa membaca ini tanpa berbuat sesuatu untuk melindungi dirinya dari berbagai bentuk serangan diskriminatif.
Kamis, 07 Oktober 2010
Sabtu, 25 September 2010
Dalam Kesendirianku
Hari ini aku menemukan kesendirianku lagi.
Ditemani sepiring roti bakar dan teh kotak.
Entah kenapa dunia jadi begitu asyik jika kunikmati waktuku beberapa saat dengan sendiri.
Mungkinkah sisi introvert merasuki jiwaku lagi?
Tak tahu sejak kapan topeng itu hilang dan datang kembali ke wajahku.
Mungkin setelah aku melihat punggungmu membelakangiku.
Sungguh aneh rasanya, membiarkanmu berlalu dan ternyata aku baik-baik saja.
Atau keanehan yang aku rasakan yang merupakan keanehan sebenarnya...harusnya aku tak merasa aneh karena kau cuma seorang yang biasa bagiku.
Semua datang dan pergi, begitu juga kau. Dan cukup lah kemarin kita berbagi kehidupan.
Akhirnya aku menemukan waktuku yang telah hilang beberapa saat.
Ditemani sepiring roti bakar dan teh kotak.
Entah kenapa dunia jadi begitu asyik jika kunikmati waktuku beberapa saat dengan sendiri.
Mungkinkah sisi introvert merasuki jiwaku lagi?
Tak tahu sejak kapan topeng itu hilang dan datang kembali ke wajahku.
Mungkin setelah aku melihat punggungmu membelakangiku.
Sungguh aneh rasanya, membiarkanmu berlalu dan ternyata aku baik-baik saja.
Atau keanehan yang aku rasakan yang merupakan keanehan sebenarnya...harusnya aku tak merasa aneh karena kau cuma seorang yang biasa bagiku.
Semua datang dan pergi, begitu juga kau. Dan cukup lah kemarin kita berbagi kehidupan.
Akhirnya aku menemukan waktuku yang telah hilang beberapa saat.
Rabu, 15 September 2010
extinction of women
Sungguh aneh...
Sejak dulu semangat kapitalis telah ada. Sebelum adanya teori ekonomi yang membahas itu. Semenjak pra-Islam, kondisi sosial sudah carut-marut. Sangat disayangkan, kehidupan zaman dulu masih berkutat pada keserakahan-kekayaan serta kelemahan-ketakutan.
Contohnya saja, seorang anak perempuan dianggap aib jika terlahir ke dunia ini. Pilihannya adalah jika terlahir, dia harus menikah dengan lelaki yang mertabat atau kekayaannya tinggi. Jika tidak seperti itu, pilihan lainnya adalah “dikubur hidup-hidup”. Ini terjadi pada masa pra-Islam di suku-suku Quraisy. Sampai sekarang pun, di beberapa “mindset” tradisional oleh para orang tua, tertanam pikiran untuk harus memiliki keturunan laki-laki dan jika anak pertama adalah perempuan, maka itu berarti kesialan. Padahal dalam Al-Qur’an sudah jelas dikatakan bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama dihadapan-Nya dan yang membedakan mereka hanyalah amalannya. Sungguh tragis dan ini bertahan hingga saat ini.
Dan peristiwa ini terjadi terus-menerus, orang-orang tetap mempercayai hal ini.
Sama saja dengan mindstream masyarakat modern, mendesak perempuan untuk turun aktif dan bekerja keras layaknya perempuan yang di eksploitir.
Apakah mereka tidak mempertimbangkan satu hal saja....bumi ini. Jika perempuan semakin sedikit dan jumlah lelaki semakin banyak, maka yang terjadi adalah terhentinya proses kelahiran individu baru sebagai penerus manusia yang menumpang di bumi ini. Tak akan ada lagi anak-anak terlahir dan bumi akan asing dengan suara tangisan bayi. Apakah manusia memang ingin segera punah dari bumi ini? Apa alasannya? Apakah karena yakin hari-hari ini akan terulang kembali? Ataukah ini sama sekali tak terpikirkan sebelumnya? Ataukah kau merasa kau tak bertanggung jawab atas secuil tindakan yang kau lakukan?
Senin, 26 Juli 2010
Kesadaran Semu

Saya bersumpah tidak mau masuk mall kalau tidak ada yang mendesak atau penting.
belanja jika mendesak atau penting.
nonton di bioskop baru klo filmnya bagus.
tidak makan pizza, kfc, mc'd kecuali klo ditraktir.
beli pakaian dan menggunting merknya.
ibuku diperlakukan tidak memuaskan oleh seorang pelayan yang melihat dan memperlakukannya dengan sinis hanya karena baju ibuku biasa-biasa saja.
atau karena ibuku tidak membawa barang belanjaan yang ditenteng dengan tas mahal.
setiap bulannya industri perfilman Indonesia diwarnai film-film yang menurut saya seperti film porno yang dikemas menjadi film misteri.
bagaimana mau bagus mindset para anak-anak yang beranjak remaja jika dicekoki film-film ini.
di tempat-tempat penjualan fastfood, orang-orang harus ngantri untuk masuk dan mendapatkan tempat duduk hanya untuk merasakan makanan yang dapat dibuat oleh tangan sendiri.
saya baru merasakannya ketika duduk di dalam dan melihat orang-orang yang ngantri menunggu kursi kosong berwajah masam dan mengeluh lamanya mereka menunggu.
sasaran empuk para kapitalis adalah perempuan, yang mudah terbuai dengan fashion.
tanpa sadar mereka mendukung kehancuran dirinya dan bangsanya.
laki-laki dan perempuan terbuai dengan cetakan yang sama tanpa kreatif membentuk gayanya sendiri.
akira, kenapako? sirik aja!
iya yah...tapi klo lagi sadar, saya begini...kesadaran semu..tapi ketika saya tersadar, saya akan selalu melawanmu.
Jumat, 18 Juni 2010
Untuk orang-orang yang ingin kulupakan
Aku ingat disaat kalian berkenalan dengan tanganku yang masih kecil, tangan yang blum tau melakukan dosa.
Aku ingat kalian berkata yang manis padaku di saat aku menginginkan sesuatu, keinginan yang sampai sekarang tidak pernah kalian hadirkan untukku.
Aku ingat aku besar sendirian.
Aku ingat semuanya.
Tapi untuk apa aku mengingat saat-saat kalian menjual lagi kemanisan itu untukku?
Di saat kalian mengangkatku tinggi sekali dalam kerendahan ku yang kalian buat seolah-olah itu kesalahan orang lain.
Aku mencintai mereka lebih dari kalian.
Aku sangat ingin melupakan kalian.
Andaikan aku di beri kesempatan menjadi tokoh utama dalam film "moment to remember" yang ingin aku lupakan adalah saat- saat barusan.
Saat-saat aku terpojokkan oleh sikap kalian yang sangat egois.
Semoga kubur tak memangsa kalian dan dendamku berakhir setelah meluapkan perasaanku dalam catatan ini.
Ataukah biar Tuhan yang melaknatku atas ini.
Aku benci kalian...benci sekali.
Aku akan melupakan semua tentang kalian kecuali kata-kata yang terakhir kalian ucapkan kepadaku.
Aku tak peduli bumi tak menerimaku atas semua ini.
Jangan pernah melakukannya lagi, atau aku tak hanya melupakan kalian.
Tangan ku yang dahulu tak berdosa akan mencari kalian.
Aku ingat kalian berkata yang manis padaku di saat aku menginginkan sesuatu, keinginan yang sampai sekarang tidak pernah kalian hadirkan untukku.
Aku ingat aku besar sendirian.
Aku ingat semuanya.
Tapi untuk apa aku mengingat saat-saat kalian menjual lagi kemanisan itu untukku?
Di saat kalian mengangkatku tinggi sekali dalam kerendahan ku yang kalian buat seolah-olah itu kesalahan orang lain.
Aku mencintai mereka lebih dari kalian.
Aku sangat ingin melupakan kalian.
Andaikan aku di beri kesempatan menjadi tokoh utama dalam film "moment to remember" yang ingin aku lupakan adalah saat- saat barusan.
Saat-saat aku terpojokkan oleh sikap kalian yang sangat egois.
Semoga kubur tak memangsa kalian dan dendamku berakhir setelah meluapkan perasaanku dalam catatan ini.
Ataukah biar Tuhan yang melaknatku atas ini.
Aku benci kalian...benci sekali.
Aku akan melupakan semua tentang kalian kecuali kata-kata yang terakhir kalian ucapkan kepadaku.
Aku tak peduli bumi tak menerimaku atas semua ini.
Jangan pernah melakukannya lagi, atau aku tak hanya melupakan kalian.
Tangan ku yang dahulu tak berdosa akan mencari kalian.
Tahukah kau wajahmu memiliki topeng yang buruk?
Semua orang mendadak jadi tak memiliki rasa malu.
Hingga hanya kelaminnya yang ia tutupi.
Kasihan...
Mereka telah dikuasai ego dan kemunafikan.
Pernahkah kau melihat markisa?
Yang warnanya kuning dan cantik, ternyata isinya kecut.
Itu seperti mereka yang senyuman manisnya dilemparkan ke sekitar,
Tapi ternyata dendam dan rasa ingin menghancurkan ada di dalam dada.
Serasa ingin ku robek wajahmu yang sok tau itu
Ocehanmu yang sopan tapi kosong...membuatku tertawa di relung hatiku.
Mengapa kau begitu bodoh dalam drama ini?
Drama yang dia buat seolah kau sudah sukses dengannya.
Aku tak akan tunduk kepadamu hanya karena dimana kau berpijak sekarang.
Dirimu hanya sebuah ilusi yang kau buat untuk menenangkan jiwamu yang miskin.
Tahukah kau?
Superioritasmu tak berarti bagiku.
Bukan aku yang pantas mengadilimu.
Semoga kau dapat belasan yang setimpal dan aku hanya bisa mendoakannya tanpa mengutukmu.
Tawaku berkumandang untuk hati kalian yang tak tenang, untuk hati kalian yang sedang bergetar melihat kebencianku.
Untuk tanda tanya di kepala kalian yang penuh ego dan kemunafikan itu.
Hingga hanya kelaminnya yang ia tutupi.
Kasihan...
Mereka telah dikuasai ego dan kemunafikan.
Pernahkah kau melihat markisa?
Yang warnanya kuning dan cantik, ternyata isinya kecut.
Itu seperti mereka yang senyuman manisnya dilemparkan ke sekitar,
Tapi ternyata dendam dan rasa ingin menghancurkan ada di dalam dada.
Serasa ingin ku robek wajahmu yang sok tau itu
Ocehanmu yang sopan tapi kosong...membuatku tertawa di relung hatiku.
Mengapa kau begitu bodoh dalam drama ini?
Drama yang dia buat seolah kau sudah sukses dengannya.
Aku tak akan tunduk kepadamu hanya karena dimana kau berpijak sekarang.
Dirimu hanya sebuah ilusi yang kau buat untuk menenangkan jiwamu yang miskin.
Tahukah kau?
Superioritasmu tak berarti bagiku.
Bukan aku yang pantas mengadilimu.
Semoga kau dapat belasan yang setimpal dan aku hanya bisa mendoakannya tanpa mengutukmu.
Tawaku berkumandang untuk hati kalian yang tak tenang, untuk hati kalian yang sedang bergetar melihat kebencianku.
Untuk tanda tanya di kepala kalian yang penuh ego dan kemunafikan itu.
Kamis, 15 April 2010
Posfeminisme
1. Pengertian
Posfeminisme sebagai suatu teori dan juga sebagai suatu gerakan perjuangan telah muncul sejak era tahun 1980-an dan 1990-an (Ibrahim dalam Brooks, 2009). Akan tetapi gaungnya kurang begitu terasa, terutama di Indonesia, padahal secara tidak sadar banyak sekali aksi-aksi dan pemikiran-pemikiran yang sebenarnya bisa dikategorikan sebagai posfeminisme.
Gaung yang kurang terdengar dari posfeminisme mungkin disebabkan tidak dipahaminya pengertian dari posfeminisme itu sendiri. Bahkan banyak pihak yang menyamakan posfeminisme sebagai antifeminisme. Posfeminisme bahkan dianggap sebagai suatu hal mengkhianati perjuangan gerakan feminis (Ibrahim dalam Brooks, 2009).
Mendefinisikan posfeminisme bukanlah suatu perkara yang mudah. Istilah posfeminisme sering disebut sebagai wacana yang cukup memancing debat dan sekaligus provokatif untuk diperbincangkan (Stacey dalam Brooks, 2009). Akan tetapi, secara sederhana istilah posfeminisme bisa dipahami sebagai suatu perjumpaan kritis dengan patriarki (Brooks, 2009). Artinya posfeminisme menempati posisi kritis dalam memandang kerangka feminisme sebelumnya. Posfeminisme menantang asumsi-asumsi hegemonik yang dipegang oleh epistemologi feminisme sebelumnya yang menyatakan bahwa penindasan patriarki dan imperialis adalah pengalaman penindasan yang universal (Brooks, 2009).
Di dalam prosesnya, posfeminisme memfasilitasi konsepsi pluralistik, memusatkan perhatiannya pada tuntutan dari budaya yang dimarjinalkan, diaspora dan yang terkoloni bagi suatu feminisme nonhegemonik yang mampu memberikan suaranya pada feminisme lokal, pribumi dan poskolonial (Brooks, 2009).
2. Pusat Teori Posfeminisme
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, posfeminisme merupakan suatu pemikiran dan gerakan yang berada pada posisi kritis terhadap gerakan feminis sebelumnya. Posfeminisme menganggap kerangka teoretis dan praktik perjuangan gerakan feminis sebelumnya sebagai tidak tepat dan problematik. Banyak asumsi-asumsi feminisme yang coba ditentang dan dikritik.
Posfeminisme menekankan pergeseran asumsi dasar gerakan feminis dari persamaan ke dalam perbedaan. Posfeminisme menentang asumsi dasar feminisme yang menyatakan bahwa penindasan perempuan bersifat universal yang berarti setiap perempuan akan mengalami suatu kondisi penindasan yang serupa di semua tempat diakibatkan oleh diskriminasi gender.
Posfeminisme menyatakan bahwa identitas ras dan kelas menciptakan perbedaan dalam kualitas hidup, status sosial dan gaya hidup yang harus diutamakan di atas pengalaman bersama perempuan pada umumnya (Hooks dalam Brooks, 2009). Artinya perempuan kulit hitam akan mengalami situs penindasan yang berbeda dibandingkan dengan perempuan kulit putih. Perempuan kulit hitam selain mengalami penindasan disebabkan oleh diskriminasi gender juga ia mengalami penindasan akibat diskriminasi ras. Inilah yang diabaikan oleh feminisme. Feminisme telah gagal menempatkan isu rasisme karena sifatnya yang etnosentris (Ramazanoglu dalam Brokks, 2009). Feminisme telah gagal menunjukkan fakta bahwa tidak setiap perempuan mengalami situs penindasan yang sama, oleh karena itu tidak setiap perempuan juga melakukan perlawanan yang sama.
Feminisme juga telah dinggap tidak berhasil membebaskan perempuan. Feminisme justru dianggap sebagai gerakan yang menciptakan dominasi baru. Feminisme seharusnya meninggalkan konstruksi yang monovokal dan monologis. Feminisme selama ini secara esensial berkulit putih, kelas menengah dan heteroseksual. Feminisme tidak mampu memahami perbedaan secara memadai.
Posfeminisme juga mempertanyakan asumsi feminisme yang menyatakan bahwa pengalaman penindasan hanya bisa dirasakan oleh perempuan. Feminisme mengasumsikan bahwa pengalaman penindasan yang mereka alami adalah sama dengan kebenaran dan oleh karenanya merupakan suatu pengetahuan yang valid. Harding (dalam Brooks, 2009) menyatakan bahwa bukanlah pengalaman itu sendiri, melainkan karena berpikir dari posisi yang kontradiktif yang menghasilkan pengetahuan feminis. Pengetahuan feminis bukanlah sesuatu yang mutlak harus dihasilkan oleh perempuan atau oleh perempuan yang tertindas. Pengetahuan tersebut juga bisa dihasilkan oleh pria dan kelompok yang lain.
3. Penutup
Pada intinya posfeminisme merupakan suatu gerakan yang tidak terputus dari feminisme. Posfeminisme merupakan suatu pemikiran dan gerakan yang menempatkan diri pada posisi yang kritis. Posfeminisme mempertanyakan asumsi-asumsi feminisme seperti patriarki sebagai situs utama penindasan, pengalaman penindasan yang universal, keseragaman, monovokal dan monologis. Posfeminisme mempertanyakan kiprah perjuangan feminisme yang melenceng dari visinya sebagai gerakan pembebasan menjadi sebuah gerakan yang justru menciptakan dominasi baru.
Alasan utama mengapa feminisme harus melewati periode kritis menuju posfeminisme adalah; adanya dampak politis dari perempuan kulit berwarna di dalam feminisme, adanya isu perbedaan seksual yang disoroti sebagai area yang selama ini tidak diartikulasikan secara memadai dalam teori feminis dan lebih umum lagi seluruh area subjektivitas, keanekaragaman dan perbedaan di dalam pembentukan teori feminis dan adanya pengaruh dari posmodernisme dan postrukturalisme pada gerakan feminis (Barrett dan Phillips dalam Brooks, 2009).
Akhirnya feminisme sebagai suatu pemikiran dan gerakan perjuangan tidak luput dari proses kritik. Begitu pula kelak dengan posfeminisme. Mungkin di masa yang akan datang ide-ide dan pemikiran-pemikiran yang diusung oleh posfeminisme dianggap tidak lagi memadai dan usang dan mengalami nasib yang sama seperti feminisme yaitu dikritik dari berbagai segi.
Daftar Pustaka:
Ann Brooks. (2009). Posfeminisme dan Cultural Studies Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Jakarta: Jalasutra.
Sumber:http://syaebani.blogspot.com/2009/08/posfeminisme.html
Posfeminisme sebagai suatu teori dan juga sebagai suatu gerakan perjuangan telah muncul sejak era tahun 1980-an dan 1990-an (Ibrahim dalam Brooks, 2009). Akan tetapi gaungnya kurang begitu terasa, terutama di Indonesia, padahal secara tidak sadar banyak sekali aksi-aksi dan pemikiran-pemikiran yang sebenarnya bisa dikategorikan sebagai posfeminisme.
Gaung yang kurang terdengar dari posfeminisme mungkin disebabkan tidak dipahaminya pengertian dari posfeminisme itu sendiri. Bahkan banyak pihak yang menyamakan posfeminisme sebagai antifeminisme. Posfeminisme bahkan dianggap sebagai suatu hal mengkhianati perjuangan gerakan feminis (Ibrahim dalam Brooks, 2009).
Mendefinisikan posfeminisme bukanlah suatu perkara yang mudah. Istilah posfeminisme sering disebut sebagai wacana yang cukup memancing debat dan sekaligus provokatif untuk diperbincangkan (Stacey dalam Brooks, 2009). Akan tetapi, secara sederhana istilah posfeminisme bisa dipahami sebagai suatu perjumpaan kritis dengan patriarki (Brooks, 2009). Artinya posfeminisme menempati posisi kritis dalam memandang kerangka feminisme sebelumnya. Posfeminisme menantang asumsi-asumsi hegemonik yang dipegang oleh epistemologi feminisme sebelumnya yang menyatakan bahwa penindasan patriarki dan imperialis adalah pengalaman penindasan yang universal (Brooks, 2009).
Di dalam prosesnya, posfeminisme memfasilitasi konsepsi pluralistik, memusatkan perhatiannya pada tuntutan dari budaya yang dimarjinalkan, diaspora dan yang terkoloni bagi suatu feminisme nonhegemonik yang mampu memberikan suaranya pada feminisme lokal, pribumi dan poskolonial (Brooks, 2009).
2. Pusat Teori Posfeminisme
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, posfeminisme merupakan suatu pemikiran dan gerakan yang berada pada posisi kritis terhadap gerakan feminis sebelumnya. Posfeminisme menganggap kerangka teoretis dan praktik perjuangan gerakan feminis sebelumnya sebagai tidak tepat dan problematik. Banyak asumsi-asumsi feminisme yang coba ditentang dan dikritik.
Posfeminisme menekankan pergeseran asumsi dasar gerakan feminis dari persamaan ke dalam perbedaan. Posfeminisme menentang asumsi dasar feminisme yang menyatakan bahwa penindasan perempuan bersifat universal yang berarti setiap perempuan akan mengalami suatu kondisi penindasan yang serupa di semua tempat diakibatkan oleh diskriminasi gender.
Posfeminisme menyatakan bahwa identitas ras dan kelas menciptakan perbedaan dalam kualitas hidup, status sosial dan gaya hidup yang harus diutamakan di atas pengalaman bersama perempuan pada umumnya (Hooks dalam Brooks, 2009). Artinya perempuan kulit hitam akan mengalami situs penindasan yang berbeda dibandingkan dengan perempuan kulit putih. Perempuan kulit hitam selain mengalami penindasan disebabkan oleh diskriminasi gender juga ia mengalami penindasan akibat diskriminasi ras. Inilah yang diabaikan oleh feminisme. Feminisme telah gagal menempatkan isu rasisme karena sifatnya yang etnosentris (Ramazanoglu dalam Brokks, 2009). Feminisme telah gagal menunjukkan fakta bahwa tidak setiap perempuan mengalami situs penindasan yang sama, oleh karena itu tidak setiap perempuan juga melakukan perlawanan yang sama.
Feminisme juga telah dinggap tidak berhasil membebaskan perempuan. Feminisme justru dianggap sebagai gerakan yang menciptakan dominasi baru. Feminisme seharusnya meninggalkan konstruksi yang monovokal dan monologis. Feminisme selama ini secara esensial berkulit putih, kelas menengah dan heteroseksual. Feminisme tidak mampu memahami perbedaan secara memadai.
Posfeminisme juga mempertanyakan asumsi feminisme yang menyatakan bahwa pengalaman penindasan hanya bisa dirasakan oleh perempuan. Feminisme mengasumsikan bahwa pengalaman penindasan yang mereka alami adalah sama dengan kebenaran dan oleh karenanya merupakan suatu pengetahuan yang valid. Harding (dalam Brooks, 2009) menyatakan bahwa bukanlah pengalaman itu sendiri, melainkan karena berpikir dari posisi yang kontradiktif yang menghasilkan pengetahuan feminis. Pengetahuan feminis bukanlah sesuatu yang mutlak harus dihasilkan oleh perempuan atau oleh perempuan yang tertindas. Pengetahuan tersebut juga bisa dihasilkan oleh pria dan kelompok yang lain.
3. Penutup
Pada intinya posfeminisme merupakan suatu gerakan yang tidak terputus dari feminisme. Posfeminisme merupakan suatu pemikiran dan gerakan yang menempatkan diri pada posisi yang kritis. Posfeminisme mempertanyakan asumsi-asumsi feminisme seperti patriarki sebagai situs utama penindasan, pengalaman penindasan yang universal, keseragaman, monovokal dan monologis. Posfeminisme mempertanyakan kiprah perjuangan feminisme yang melenceng dari visinya sebagai gerakan pembebasan menjadi sebuah gerakan yang justru menciptakan dominasi baru.
Alasan utama mengapa feminisme harus melewati periode kritis menuju posfeminisme adalah; adanya dampak politis dari perempuan kulit berwarna di dalam feminisme, adanya isu perbedaan seksual yang disoroti sebagai area yang selama ini tidak diartikulasikan secara memadai dalam teori feminis dan lebih umum lagi seluruh area subjektivitas, keanekaragaman dan perbedaan di dalam pembentukan teori feminis dan adanya pengaruh dari posmodernisme dan postrukturalisme pada gerakan feminis (Barrett dan Phillips dalam Brooks, 2009).
Akhirnya feminisme sebagai suatu pemikiran dan gerakan perjuangan tidak luput dari proses kritik. Begitu pula kelak dengan posfeminisme. Mungkin di masa yang akan datang ide-ide dan pemikiran-pemikiran yang diusung oleh posfeminisme dianggap tidak lagi memadai dan usang dan mengalami nasib yang sama seperti feminisme yaitu dikritik dari berbagai segi.
Daftar Pustaka:
Ann Brooks. (2009). Posfeminisme dan Cultural Studies Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Jakarta: Jalasutra.
Sumber:http://syaebani.blogspot.com/2009/08/posfeminisme.html
Selasa, 13 April 2010
Buka matamu, bukalah sedikit untukku..
Tiap harinya aku terbangun tanpa tatapan matamu.
Gantian, aku yang melototimu.
Selalu kubayangkan suatu pagi kau akan terbangun dan bercerita tentang dunia...ditemani roti bakar coklat dan kopi.
Tapi hanya aku yang menikmati kicau burung di pagi hari ditemani waktu yang berlari disampingku.
Penantian ini mungkin akan berakhir...
Ketika aku tak lebih dahulu membuka mata.
Ketika malam tak jadi pagi bagimu.
Ketika roti bakar dan kopi tak kunikmati sendiri.
Dan ketika waktu berhenti untuk kita.
Gantian, aku yang melototimu.
Selalu kubayangkan suatu pagi kau akan terbangun dan bercerita tentang dunia...ditemani roti bakar coklat dan kopi.
Tapi hanya aku yang menikmati kicau burung di pagi hari ditemani waktu yang berlari disampingku.
Penantian ini mungkin akan berakhir...
Ketika aku tak lebih dahulu membuka mata.
Ketika malam tak jadi pagi bagimu.
Ketika roti bakar dan kopi tak kunikmati sendiri.
Dan ketika waktu berhenti untuk kita.
Langganan:
Postingan (Atom)