Kemerdekaan perempuan untuk berekspresi sejak 1909 diperingati dalam suatu kesepakatan yang masyarakat dunia sebut “hari perempuan”. Pada awalnya kemunculannya, hari perempuan sedunia dilakukan untuk menyerukan kemerdekaan, kesetaraan dan kebersamaan dengan mendukung perolehan hak suara bagi perempuan sedunia. Memang pantas jika kita masih mengenang para perempuan yang menoreh catatan sejarah dalam kehidupan partisipatifnya di masyarakat. Tetapi jika dianalisis lebih jauh, ketika dulu perempuan berkomitmen berjuang untuk memperoleh hak suaranya, serta merta gerakan itu dimanfaatkaan oleh “kuasa tak nampak” untuk dijadikan komoditas politik pihak-pihak tertentu, yang tentunya bukan perempuan yang diuntungkan. Mungkin ada simbiosis mutualisme yang terjalin antara perempuan dan aktor yang bermain dalam lingkaran politik tetapi jika diakumulasi itu tidaklah memadai dibandingkan keuntungan yang di dapatkan para kapitalis.
Perempuan kemudian mendapatkan hak suaranya dan merasakan kebebasan untuk bertindak lebih terbuka sedangkan para kapitalis memanfaatkan situasi itu dengan sampul “meng-elu-kan” perempuan. Akhirnya, mereka mereproduksi citra perempuan yang modern dengan sebutan “wanita karir” adalah perempuan yang mampu memperoleh pekerjaan di ruang-ruang publik sama seperti laki-laki. Dibentuklah organisasi-organisasi keperempuanan oleh pemerintah untuk mewadahi suara perempuan. Dikumandangkanlah hari-hari sebagai momentum pengagungan bagi perempuan seolah-olah perempuan makhluk paling spesial yang mesti disorot pada hari-hari tertentu saja, dan keesokan harinya tidak memiliki arti apapun.
Perempuan pun mulai melangkah meninggalkan rumah. Ironinya, para anak kehilangan tempat mereka untuk bernaung dalam sebuah keluarga yang menjadi penopang hidup mereka.. Terciptalah penerus-penerus kehidupan yang tidak memiliki kasih sayang dan buas dengan kebebasan.
Hari ini diperingati sebagai hari perempuan sedunia. Di Seoul, hari perempuan sedunia diperingati dengan tarian seksi dancer yang membawa spanduk di tengah jalan. Apakah hal ini patut dikatakan sebagai bentuk perjuangan yang dapat dimaknai sebagai penyampaian pesan kepada dunia bahwa hari ini perempuan bebas menentukan pilihan? Mungkin saja, perempuan hari ini tidak sadar akan apa yang mereka lakukan. Mengatakan sadar tetapi melanggengkan bentuk-bentuk diskriminasi sama saja dengan tidak sadar.. Tapi apakah kita sudah betul-betul sadar akan pilihan kita untuk memperjuangkan kebebasan perempuan? Ataukah tindakan kita hari ini hanyalah memperparah eksploitasi perempuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar