Jumat, 09 Desember 2011

Perempuan Idaman ?


Saya merasa gelisah setelah membaca tulisan di sebuah blog yang mengatakan “Perempuan yang cantik luar dalam adalah perempuan idaman semua laki-laki untuk diperistri di dunia dan akhirat”Dengan membaca ini, saya kemudian berpikir apakah tujuan perempuan hidup memang adalah menjadi istri seorang laki-laki dan perempuan ditakdirkan untuk dikejar-kejar para lelaki. 

Membahas perempuan memang selalu menarik bagi saya. Apalagi banyak yang mengatakan “begitu banyak karya tulisan mengenai perempuan yang di tulis oleh lelaki bukan oleh perempuan”…dengan demikian saya mengambil kesimpulan, perempuan harus menulis tentang dirinya, karana hanya perempuan lah yang tahu bagaimana perempuan sebenarnya.

Defenisi cantik yang menjadi karakter dari sebuah keindahan menjadi lekat pada diri perempuan. Pelekatan cantik yang dimaknai beberapa orang berbeda-beda tergantung konstruk citra yang telah dikonsumsi orang tersebut. Misalnya saja, saya dapat mengatakan bahwa perempuan yang mengurai rambut panjang dan berpakaian kasual serta betubuh semampai itu cantik. Ini ditinjau dari subyektifitas saya sendiri. Lain lagi jika ada yang mengatakan perempuan yang memakai jilbab itu cantik karena menutupi auratnya dan bahkan sebagian besar masyarakat berpikir bahwa perempuan yang memakai jilbab itu sudah pasti berhati baik.

Tanpa sadar kita terhegemoni oleh sebuah stereotype ISTRI IDAMAN yang mengandung arti bahwa perempuan adalah sesuatu yang harus terus menerus memproduksi citra yang dikonsumsi lelaki. Ada sebuah potongan ayat yang masih digunakan beberapa orang untuk MELEGITIMASI kepemimpinan lelaki terhadap perempuan, “arrijalu qawwamuna ’alannisa. Mereka mengartikannya dengan lelaki adalah pemimpin perempuan. Apakah memang qawwamun berarti pemimpin? Paling tidak ada orang alim lain yang bilang bahwa kata qawwamun sebenarnya bisa berarti pelindung, pemelihara, penjaga, bahkan pelayan

Kalau kita tilik asbabunnuzul ayat ini, mungkin yang paling sesuai adalah jika qawwamun diartikan dengan pelindung atau pemelihara. Suatu ketika ada seorang perempuan datang kepada Nabi, mengadukan pemukulan yang dilakukan suaminya karena penolakannya untuk berhubungan suami-istri. Nabi menjawab bahwa suaminya layak untuk mendapat pembalasan pukulan. Lalu turunlah ayat ini.

Kalau dibaca kelanjutan dari ayat ini, bima fadhalallahu ba’dhahu ’ala ba’dhin, dapat ditafsirkan bahwa semestinyalah lelaki itu melindungi perempuan dengan apa yang Allah lebihkan pada lelaki daripada perempuan, yakni kelebihan kemampuan fisik. Tidak pantas bagi seorang lelaki beradu pukul dengan perempuan, karena hampir pasti dia menang.

Selanjutnya ayat ini berujar, wabima anfaqu biamwalihim, yang mengaitkan peran perlindungan tersebut dengan penafkahan kepada istri oleh suami yang lazim di jaman itu, walau makin berkurang kelaziman tersebut di jaman sekarang. Singkatnya, ayat ini sebenarnya bukan menegaskan kepemimpinan laki-laki terhadap perempuan tapi mengharuskan perlindungan kepada perempuan berupa perlindungan fisik dan juga perlindungan ekonomi. Jika ruh ayat ini ingin diperjuangkan, memberikan kemerdekaan ekonomi kepada perempuan melalui pembukaan kesempatan bagi mereka untuk berkarya merupakan tindakan yang paling sesuai dengan kehendak tuhan. Bukan dengan meminta mereka taat kepada laki-laki, bukan menguasai mereka dengan ketergantungan ekonomi.

Akan tetapi yang terjadi hari ini malah sebaliknya. Dalam konteks sosio-kultural, perempuan masih harus hadir dengan citra cantik yang harus terus menerus di reproduksi dan layak dikunsumsi lelaki, serta di beberapa daerah di Indonesia adalah hal yang tabu jika seorang perempuan bersuara tentang kemerdekaannya. Tidak sedikit hanya menjadi tertawaan para lelaki di ruang-ruang publik. Maka dari itu, perempuan seyogyanya diberi kebebasan untuk mempelajari apapun agar mampu berdiri pada kehendak bebasnya. Dengan demikian, laki-laki juga tak akan kerepotan dengan tuntutan harus memenuhi segala hal dalam rumah tangga sebab itu akan menjadi tanggung jawab bersama kelak jika perempuan juga dapat survive menghadapi tantangan hidup. 


Sebenarnya masih panjang sih...masih banyak yang berseliweran di pikiran saya, tapi tunggu moodnya enak baru nulis lagi.  :)

*Sumber : http://jack-separo.blogspot.com/2009_04_01_archive.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar