Saya merasa
gelisah setelah membaca tulisan di sebuah blog yang mengatakan “Perempuan yang cantik luar
dalam adalah perempuan idaman semua laki-laki untuk diperistri di dunia dan
akhirat”. Dengan membaca ini, saya kemudian berpikir apakah tujuan perempuan hidup
memang adalah menjadi istri seorang laki-laki dan perempuan ditakdirkan untuk
dikejar-kejar para lelaki.
Membahas perempuan memang selalu menarik bagi saya. Apalagi banyak yang
mengatakan “begitu banyak karya tulisan mengenai perempuan yang di tulis oleh
lelaki bukan oleh perempuan”…dengan demikian saya mengambil kesimpulan,
perempuan harus menulis tentang dirinya, karana hanya perempuan lah yang tahu
bagaimana perempuan sebenarnya.
Defenisi cantik yang menjadi karakter dari sebuah keindahan menjadi lekat
pada diri perempuan. Pelekatan cantik yang dimaknai beberapa orang berbeda-beda
tergantung konstruk citra yang telah dikonsumsi orang tersebut. Misalnya saja,
saya dapat mengatakan bahwa perempuan yang mengurai rambut panjang dan
berpakaian kasual serta betubuh semampai itu cantik. Ini ditinjau dari
subyektifitas saya sendiri. Lain lagi jika ada yang mengatakan perempuan yang
memakai jilbab itu cantik karena menutupi auratnya dan bahkan sebagian besar
masyarakat berpikir bahwa perempuan yang memakai jilbab itu sudah pasti berhati
baik.
Tanpa sadar kita terhegemoni oleh sebuah stereotype ISTRI IDAMAN yang
mengandung arti bahwa perempuan adalah sesuatu yang harus terus menerus
memproduksi citra yang dikonsumsi lelaki. Ada sebuah potongan ayat yang masih
digunakan beberapa orang untuk MELEGITIMASI kepemimpinan lelaki terhadap
perempuan, “arrijalu
qawwamuna ’alannisa”. Mereka mengartikannya dengan lelaki
adalah pemimpin perempuan. Apakah memang qawwamun berarti pemimpin?
Paling tidak ada orang alim lain yang bilang bahwa kata qawwamun sebenarnya
bisa berarti pelindung, pemelihara, penjaga, bahkan pelayan.
Kalau kita tilik asbabunnuzul
ayat ini, mungkin yang paling sesuai adalah jika qawwamun diartikan
dengan pelindung atau pemelihara. Suatu ketika ada seorang perempuan datang
kepada Nabi, mengadukan pemukulan yang dilakukan suaminya karena penolakannya
untuk berhubungan suami-istri. Nabi menjawab bahwa suaminya layak untuk
mendapat pembalasan pukulan. Lalu turunlah ayat ini.
Kalau dibaca kelanjutan dari ayat ini,
bima fadhalallahu ba’dhahu ’ala ba’dhin, dapat ditafsirkan bahwa
semestinyalah lelaki itu melindungi perempuan dengan apa yang Allah lebihkan
pada lelaki daripada perempuan, yakni kelebihan kemampuan fisik. Tidak pantas
bagi seorang lelaki beradu pukul dengan perempuan, karena hampir pasti dia
menang.
Selanjutnya ayat ini berujar, wabima
anfaqu biamwalihim, yang mengaitkan peran perlindungan tersebut dengan
penafkahan kepada istri oleh suami yang lazim di jaman itu, walau makin
berkurang kelaziman tersebut di jaman sekarang. Singkatnya, ayat ini
sebenarnya bukan menegaskan kepemimpinan laki-laki terhadap perempuan tapi
mengharuskan perlindungan kepada perempuan berupa perlindungan fisik dan juga
perlindungan ekonomi. Jika ruh ayat ini ingin diperjuangkan, memberikan
kemerdekaan ekonomi kepada perempuan melalui pembukaan kesempatan bagi mereka
untuk berkarya merupakan tindakan yang paling sesuai dengan kehendak tuhan.
Bukan dengan meminta mereka taat kepada laki-laki, bukan menguasai mereka
dengan ketergantungan ekonomi.
Akan tetapi
yang terjadi hari ini malah sebaliknya. Dalam konteks sosio-kultural, perempuan
masih harus hadir dengan citra cantik yang harus terus menerus di reproduksi dan
layak dikunsumsi lelaki, serta di beberapa daerah di Indonesia adalah hal yang
tabu jika seorang perempuan bersuara tentang kemerdekaannya. Tidak sedikit
hanya menjadi tertawaan para lelaki di ruang-ruang publik. Maka dari itu, perempuan seyogyanya diberi kebebasan untuk mempelajari apapun agar mampu berdiri pada kehendak bebasnya. Dengan demikian, laki-laki juga tak akan kerepotan dengan tuntutan harus memenuhi segala hal dalam rumah tangga sebab itu akan menjadi tanggung jawab bersama kelak jika perempuan juga dapat survive menghadapi tantangan hidup.
Sebenarnya masih panjang sih...masih banyak yang berseliweran di pikiran saya, tapi tunggu moodnya enak baru nulis lagi. :)
Sebenarnya masih panjang sih...masih banyak yang berseliweran di pikiran saya, tapi tunggu moodnya enak baru nulis lagi. :)
*Sumber : http://jack-separo.blogspot.com/2009_04_01_archive.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar